Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan

KISAH CANDI PRAMBANAN

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung.
Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.


Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.
Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.

Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.


Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti ‘terbit‘ atau ‘bersinar‘, biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).
Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.

Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.
Kalau cermat, anda juga bisa melihat berbagai relief burung, kali ini burung yang nyata. Relief-relief burung di Candi Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa. Lalu, apakah jenis itu dulu pernah banyak terdapat di Yogyakarta? Jawabannya silakan cari tahu sendiri. Sebab, hingga kini belum ada satu orang pun yang bisa memecahkan misteri itu.

Kerajaan Pasudan / Padjadjaran, Sebuah Kilas Balik Sejarah.

Om Swastiastu

Apa Kabar semua Pemuda Pemudi Hindu Nusantara? Melalui Dumay yg tidak keliatan jelas menjadi jelas, Kali ini saya akan memuat tulisan karya seorang teman facebooker yg menurut saya perlu di publikasikan tentang sejarah Pasundan ato biasa di sebut Pajajaran dgn Prabu Siliwangi yg terkenal hebat. banyak versi ceritanya untuk itu mari kita Simak.

PRABU JAYADEWATA (1482 – 1521)
( PRABU SILIWANGI ) Jayadewata secara resmi diangkat sebagai raja Kerajaan Pajajaran yang bertahta di Pakuan saat berusia 81 tahun. Saat pengangkatannya, dilakukan 2 kali penobatan. Dari penobatannya pertama sebagai penguasa Galuh beliau diberi gelar Ratu Purana Prabu Guru Dewapranata. Sedangkan untuk penobatannya sebagai penguasa Sunda-Galuh, beliau diberi gelar Sri
Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata .




Peta Kekuasaan Kerajaan Pajajaran

Dari beberapa kali pernikahannya, Sri Baduga Maharaja dikabarkan memiliki 13 orang anak yang rata-rata menjadi raja / penguasa yang menyebar ke seluruh Tatar Pasundan.
Karena sepak terjang Jayadewata saat menjadi Prabu Anom maupun setelah menjadi Raja Pajajaran begitu hebat dan dikagumi oleh seluruh rakyatnya serta dianggap sebagai raja di tatar Sunda yang terbesar setelah era kekuasaan kakeknya (Prabu Niskala Wastukancana), maka banyak para pujangga Sunda menceritakan tokoh ini ke dalam bentuk sastra (seperti dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun). 

Melalui bahasa pujangga-pujangga tersebut Jayadewata digelari Prabu
Siliwangi (berasal dari kata “silih” yang berartimenggantikan dan “wangi” yang diambil dari gelar kakeknya yaitu Prabu Wangi / Prabu Anggalarang /Prabu Niskala Wastukancana). Jadi, penggunaan gelar Prabu Siliwangi ini sebenarnya bukan merupakan gelar resmi, dan sang raja pun tidak pernah menggunakan gelar ini untuk menunjukkan jati dirinya (seperti yang tertulis pada prasasti-prasasti). 

Pemakaian sebutan Prabu Siliwangi lebih bersifat kesusastraan, dan kebiasaan dari rakyat di zaman itu yang merasa tabu (tidak boleh) untuk menyebut secara langsung nama atau gelar sesungguhnya dari sang raja yang berkuasa dalam percakapan mereka sehari-hari.
Wangsakerta (ahli sejarah dari Cirebon sekaligus penganggung jawab dari penyusunan Sejarah Nusantara) mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi,
seperti tulisannya :
 

"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon
mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu
Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga
nira"
(Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua
orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja
Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).
 

Jayadewata merupakan Prabu Siliwangi yang sangat terkenal atau yang selama ini sering diceritakan
kemahsyurannya didalam cerita-cerita sejarah Pajajaran dan masyarakat Sunda.
Di saat kekuasaanya, Pajajaran mengalami masa kejayaannya ( kretayuga ), dimana sosial ekonomi
rakyatnya cukup sejahtera serta Pakuan yang menjadi ibukota kerajaan mencapai puncak perkembangannya. Sang Maharaja memperkuat sistem pertahanan Pakuan secara spektakuler yaitu dengan cara memperkokoh parit yang mengelilingi kerajaannya sepanjang 3 kilometer di tebing Cisadane (parit tersebut pertama kali dibuat oleh Rakeyan Banga). Sedangkan bekas tanah galian dari proyek itu kemudian dijadikan benteng yang memanjang di bagian dalam, sehingga jika musuh menyerang dari luar akan terhambat oleh parit kemudian benteng tanah. Kemudian Sang Maharaja membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, yaitu bukit Badigul di daerah Rancamaya (Bogor). Tempat tersebut dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan dan menyemayamkan abu jenazah dari raja-raja tertentu. Beliau juga memperkeras jalan dengan batu-batuan tertentu dari keraton hingga gerbang Pakuan, kemudian dilanjutkan lagi hingga ke Rancamaya (kurang lebih 7 km). Gerbang Istana depan dinamakan Lawang Saketeng, sedangkan gerbang istana belakang
dinamakan Lawang Gintung. Untuk pelestarian lingkungan alam, Sang
Maharaja membuat semacam hutan lindung yang berfungsi sebagai reservoir alami. Hutan tersebut
ditanami pohon samida, pohon tersebut kemungkinan hanya boleh ditebang jika kayunya diperlukan untuk kepentingan upacara kremasi.
 

Karya besar dari Sri Baduga Maharaja yaitu pembangunan telaga besar yang bernama Sang Hyang
Talaga Rena Mahawijaya di hulu sungai Ciliwung (Rancamaya, Bogor). Telaga tersebut berfungsi sebagai tempat pariwisata dan penyuburan tanah. Karya-karya lainnya dari Sri Baduga Maharaja antara lain membuat jalan ke Wanagiri, membuat“kaputren” (tempat isteri-isteri-nya),“kesatrian” (asrama prajurit), satuan-satuan tempat (pageralaran), tempat-tempat hiburan, memperkuat
angkatan perang, serta menyusun Undang-Undang Kerajaan Pajajaran. Undang-undang yang disebut
Sanghiyang Siksakandang Karesian ini dirumuskan berdasarkan sistem pemerintahan Sri Baduga Maharaja yang sangat adil, Undang-Undang ini disusun pada
tahun 1518. Sri Baduga Maharaja memiliki ahli syair yang bernama Buyut Nyai Dawit , sedangkan ahli pemerintahan dipegang oleh Adipati Pangeran Papak.Kebijakan yang paling menarik di saat kekuasaan dari Sri Baduga Maharaja adalah dengan membuat penetapan batas-batas kabuyutan (daerah yang dianggap suci dan dijadikan pusat pendidikan) yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" atau disebut juga desa perdikan (desa bebas pajak) di daerah Sunda Sembawa, Gunung Samaya, dan Jayagiri. Tindakan ini diambil karena Sri Baduga Maharaja merasa harus menjalankan amanat dari kakeknya (Prabu Anggalarang / Prabu Niskala Wastukancana). Bahkan amanat tersebut
diabadikan dalam prasasti yang terbuat dari tembaga sebanyak 5 keping. Prasasti tersebut kemudian
ditemukan di Kabantenan. (isi dari prasasti itu lihat Kerajaan Sunda sub- Prabu Anggalarang).
Penduduk di lurah kawikuan tersebut dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif / kerja bakti), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dongdang" (padi 1 gotongan). Selain di 3 buah desa kawikuan, Sri Baduga Maharaja juga memerintahkan kepada para petugas muara agar dilarang untuk memungut bea. Raja ini menganggap, tidak perlu memungut pajak pada mereka yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada
ajaran-ajaran dan yang terus mengamalkan peraturan dewa.
 

Dalam hal memperkuat angkatan perang, Prabu Siliwangi ini membentuk satuan tentara dengan tugas
yang jelas. Misalnya Bhayangkara (prajurit keamanan), Pamarang (prajurit yang ahli memainkan pedang) dan Pamanah (prajurit ahli memanah). Dan terakhir Pasukan Elite Pengawal Raja, Puragabaya .Dengan pembagian tugas tersebut menjadikan Pajajaran memiliki armada
perang yang tangguh.Sedangkan untuk pertahananan di dalam kerajaan, Sri Baduga Maharaja selalu menekankan kepada rakyatnya agar berpedoman setia kepada kebiasaan dan keaslian leluhur, jika hal itu dilaksanakan dengan baik, maka beliau meyakini bahwa Pajajaran tidak akan kedatangan musuh. Beliau sangat menganjurkan kepada semua pendeta dan pengiringnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemahsyuran Pelabuhan Muara Jati sebagai
pelabuhan internasional makin berkembang saat Raden Walangsungsang (anaknya dari Subang Larang), menetap di Cirebon dan mendirikan Pakuwuan Cirebon Larang di Cirebon pesisir. Langkah yang dilakukan Raden Walangsungsang dalam mengelola Pelabuhan Muara Jati waktu itu (tugas warisan dari Ki Gedeng Tapa yang telah wafat) di antaranya adalah membentuk satuan penjaga keamanan untuk mengamankan Pelabuhan Muara Jati yang semakin ramai. Setelah daerah itu semakin maju, akhirnya Raden Walangsungsang diangkat sebagai raja daerah Kerajaan Cirebon Larang oleh Sri Baduga Maharaja.Sebagai kerajaan yang memperoleh pendapatan dari hasil niaga, Pajajaran saat itu merasa cemas dengan hubungan harmonis antara Cirebon Larang (yang dipimpin oleh anaknya yang bernama Raden Walangsungsang) dan Demak. 


Pada saat itu, armada Laut Demak sering berada di pelabuhan Muara Jati. Sri
Baduga Maharaja khawatir apabila kehadiran armada Demak dapat mengganggu jalannya perniagaan
Pajajaran. Sekitar abad ke-15 di Nusantara, Pajajaran dan Demak termasuk kerajaan yang memiliki jalur perdagangan sangat ramai. Demak yang terkenal kuat dalam angkatan lautnya, saat itu tengah mengalami beberapa kekalahan dari Portugis yang telah menguasai selat Malaka. Berita kekalahan ini membuat Sri Baduga Maharaja merasa perlu mengadakan hubungan kerjasama dengan Portugis.
Seperti yang kita tahu, Pajajaran merupakan penguasa di Selat Sunda dan Portugis berkuasa di Selat
Malaka. Sebagai penguasa di 2 selat yang menjadi jalan masuk perniagaan dan bangsa asing ke Nusantara, tentunya keputusan Sri Baduga Maharaja ini sangat
cemerlang. Kerjasama antara Pajajaran dan Portugis sangat tepat dilakukan untuk menguasai jalur niaga di Nusantara. Kerjasama ini dilakukan bukan maksud menggalang kekuatan untuk menyerang Demak, melainkan hanya upaya antisipasi apabila Demak membantu Cirebon melakukan serangan dalam upaya pembebasan diri dari Pajajaran. Rupanya, Sri Baduga Maharaja sudah dapat mencium gelagat dari Raden Walangsungsang dalam upaya memerdekakan diri. Untuk memuluskan rencananya, maka Sri Baduga Maharaja mengutus Surawisesa (putera mahkota Pajajaran) untuk mengadakan kerjasama dengan Alfonsod’ Albuquerque (Laksamana Bunker Portugis di Malaka).
 

Pada tahun 1512, Surawisesa mengunjungi Malaka dan akhirnya perjanjian bilateral resmi antara
Pajajaran – Portugis, dengan hasil kesepakatan adalah Portugis berjanji untuk membantu Kerajaan Pajajaran bila diserang oleh pasukan Demak dan Cirebon, serta ingin menjalin hubungan dagang.  Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1513, Pajajaran didatangi oleh duta-duta dari Portugis dengan menumpang 4 buah kapal. Salah seorang dari rombongan Portugis tersebut bernama Tome Pires yang bertindak sebagai juru catat perjalanan. Tome Pires sendiri mencatat mengenai kekuasaan dari Sri Baduga Maharaja adalah “the kingdom of Sunda is justtly governed” (Kerajaan Sunda / Pajajaran diperintah dengan adil). Kerjasama kali itu baru merupakan tahap penjajakan.
Kebijakan-kebijakan dari Prabu Siliwangi itulah yang menunjukan kemakmuran, kebesaran, dan kejayaan Pajajaran pada masa kekuasaannya. Raja ini menerapkan motto hidup “silih asah, silih asih, silih asuh“ . Dengan kebijakan dan strategi-strategi itu pula, kita dapat mengakui bahwa Prabu Siliwangi ini adalah seorang raja yang mampu memimpin kerajaan dan juga seorangyang ahli strategi perang, sehingga saat itu Pajajaran tidak dapat disusupi oleh musuh. Karena itulah, orang pada zaman itu seakan teringat kembali kepada kebesaran mendiang kakek buyutnya (Prabu Maharaja
Lingga Buana) .


Dalam Carita Parahyangan, pemerintahan Sri
Baduga dilukiskan demikian :
"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh
ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan
kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja
loba di sanghiyang siksa"
(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan
kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit
batin. Bahagia sejahtera di utara, selatan, barat dan
timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah
tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).
 

Namun kebesaran yang dimiliki Pajajaran saat itu tidak serta merta membuat sang raja merasa tenang, hal ini dikarenakan pada saat itu banyak Rakyat Pajajaran yang beralih ke agama Islam dengan meninggalkan agama lama. Mereka oleh sang Maharaja disebut "loba" (serakah) karena merasa tidak puas dengan agama yang ada, lalu mencari yang baru. Meskipun merasa kesal, tetapi Sri Baduga Maharaja hanya bisa menyindir tanpa melakukan tindakan “fisik” atau mengeluarkan perintah larangan, karena beliau menyadari bahwa memilih agama merupakan hak bagi setiap rakyatnya. Dengan demikian beliau tetap memperlakukan adil bagi rakyatnya yang telah memeluk
agama Islam.Untuk lebih mempererat kerjasama dengan Portugis, pada tahun 1521 Sri Baduga Maharaja kembali menugaskan Surawisesa untuk menemui Portugis di Malaka. Penugasan ini dilakukan beberapa bulan sebelum sang Maharaja wafat. Sri Baduga Maharaja wafat pada tanggal 31
Desember 1521 dalam usia yang sangat sepuh yaitu 120 tahun. Kekuasaan Kerajaan Pajajaran diserahkan pada puteranya yang bernama Surawisesa (anak dari Kentring Manik Mayang Sunda).
Ketika sudah dikubur selama 12 tahun, makam Sri Baduga Maharaja digali kembali atas perintah dari
Surawisesa. Kemudian kerangkanya diangkat untuk dikremasi. Setelah itu, abu jenazahnya tadi kemudian ditaburkan di Rancamaya, Bogor ( kini sudah dijadikan lapangan golf serta perumahan mewah). Selain di Rancamaya, sisa abu jenazahnya itu kemudian dibagikan kepada raja-raja daerah (bawahan Pajajaran) untuk dipusarakan di tempat kabuyutan daerah itu. Karena itulah, maka tidak perlu heran apabila di beberapa tempat banyak yang mengklaim sebagai
tempat dari makam Prabu Siliwangi.


Sumber :  
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202030100455787&set=a.1736852142835.2088436.1284563882&type=1&theater
Foto : Ferry Mustika

Sejarah/Babad Penaklukan Bali atas Majapahit

Mendengar kisah duka di Lampung dan adanya wacana "Bali Merdeka",..tiba-tiba timbul keinginan hati utk membuka lg sejarah/Babad Penaklukan Bali atas Majapahit....Konon kabarnya selama Patih Kebo Iwa dari Bali tetap hidup, Bali tak bisa dikalahkan.....

Ketika perang tanding terjadi, disaat Patih Gajahmada sudah tercekik , mendadak timbul niat Kebo Iwa untuk menunda kematian Gajahmada dengan cara ingin tahu mengapa Gajahmada seorang Mahapatih yang begitu tersohor namanya, menghadapi Kebo Iwa seorang diri saja masih mempergunakan tipu daya dengan cara mengubur Kebo Iwa dalam sumur- hidup hidup.

Gajahmada dengan Isak tangisnya menyatakan bahwa : Disatu sisi dia mengakui kedigjayaan Kebo Iwa Ksatria Bali, tapi disisi lain dia harus konsisten dengan keinginan luhurnya mempersatukan Nusantara.

Begitu Kebo Iwa mendengarkan kesaksian Gajahmada yang jujur dan misi yang luar biasa ini "MEMPERSATUKAN NUSANTARA" maka menangislah Kebo Iwa , disatu sisi dia adalah kesatria yang pantang menyerah, disisi lain Kebo Iwa ingin mensuport perjuangan untuk mempersatukan Nusantara, akhirnya Kebo Iwa memilih jalan Ksatria, dengan jalan membuka rahasia kelemahannya

“Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti, namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.
..................................................

Akhirnya , sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada, Patih Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali.
Patih Kebo Iwa :
“Kiranya kematianku tidak sia-sia …biarlah nusantara yang kuat bersatu sebagai hasil yang pantas atas harga hidupku”. … dan pertiwi pun ikut menangis melepas kepergian salah satu putra terbaiknya.

Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa.
Gajah Mada :
“Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… "SEJARAH SUATU NUSANTARA YANG SATU DAN KUAT”. Semesta akan tetap mencatat bahwa pernah dalam suatu masa hidup seorang patih tertangguh dalam sejarah Bali

Menyimak akan tulisan diatas mengingatkan kita bagaimana para pahlawan Bali memberikan kemerdekaan itu kepada kita, maka gunakanlah kemerdekaan itu dangan sebaek-baeknya. Walau kecewa, sedih dan Emosi tingkat tinggi tapi Pikiran mesti tetap dingin dalam menanggapi segala sesuatunya karena suatu saat kebenaran akan terjawab atas Karma yang telah dilakukan...

Dalam Buku Slokantara Sloka 78 (176-182) 
tentang keutamaan dan sebutan lain Kali Yuga:
Di masa besar zaman Kali ialah pemberian itu yang diutamakan dan dihargai setinggi awan oleh masyarakat. Oleh karena inilah, di zaman Kali ini orang-orang jahat dan gila (tetapi kaya), tegasnya yang jahat dan rusuh itu sumber-sumber kehancuran, mereka menyakiti orang-orang baik. Zaman ini juga dinamai Zaman Besi, terbukti di mana-mana terjadi peperangan, kekerasan lawan kekerasan (besi lawan besi).

Dalam Kitab Kakawin Niti Çastra Sargah IV, Kakawin Wirama Dasar: 
Wirat, Kadang Wirama: Ragakusuma, 13-14 (31-32), tentang sifat, letak hidup, umur manusia dan panjang jaman Kali Yuga :Dan zaman sekarang ini dimaksudkan dalam zaman Kali, saat mana ada-ada saja yang menjadi bahan perselisihan, bahan perkelahian selalu timbul kekerasan dan dilawan pula dengan kekerasan, tidak ada manusia berhati emas, semua berhati besi untuk menghancurkan manusia lainnya, hidup teletak di sumsum tulang, umur manusia tinggal 100 tahun dan akhirnya umur manusia hanya tinggal ± 83 tahun (1.000 bulan) dan pada jaman penghabisan umur manusia di zaman Kali 40 tahunlah batas umur manusia.


Sahabat Generasi Muda Hindu,
Mari kita merenung,...dalam menyikapi "Tragedi Lampung",...masihkah kita ingin Bali Merdeka atau tetap mempertahankan misi pendahulu kita, : Kebo Iwa dan Gajah Mada ...NUSANTARA YANG SATU DAN KUAT ????


Sumber :  http://www.facebook.com/groups/bangkithindu/

Misteri Makna bilangan 108 dalam Sastra Veda

OM Swastyastu,
--- Ya Tuhan, semoga Engkau selalu memberikan perlindungan ---

Kali ini saya ingin mengajak para generasi Penerus Hindu untuk membuka misteri angka 108 dalam Hindu. Untuk itu Bangkitlah Hindu ku...sadarlah karena Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan tidak dapat dihancurkan. (Hitopadesa). 

SACRED AND POWER OF 108
Signifikansi Angka 108 dalam Ajaran Hindu

Electron shell 108 Hassium


Dalam Ajaran Hindu, angka 108 adalah suci dan keramat. Nama-nama Dewa dan Avatar juga selalu ditulis 108. Mengapa? Dari berbagai sumber di web, berikut ini yang saya dapatkan, lalu saya kaitkan dengan sedikit pengetahuan saya tentang Sanatana Dharma. Semoga berguna untuk menambah pengetahuan atas keindahan (beauty), kealamiahan (naturalness), dan keilmiahan (scientific) ajaran Veda.

1. Kekuasaan 1, 2, dan 3. Dalam matematika, 1x1 =1; 2x2 =4, dan 3x3x3 = 27. Bila digabung, 1x1x2x2x3x3x3 = 108, atau 1x4x27 = 108. Angka 1, 2, dan 3 ini, bila dikaitkan dengan teologi ketuhanan Hindu: Dia Yang Satu (Brahman) dengan kedua sifat-Nya (Tuhan Yang Tiada Berwujud – Nirguna Brahman dan Tuhan Yang Berwujud – Saguna Brahman), bila Dia Berwujud hadir dalam dua personifikasi yaitu Tuhan dan Shakti (energi ilahi)-Nya; memiliki tiga kuasa utama yaitu mencipta (Brahma), memelihara (Vishnu), dan melebur (Shiva).

2. Skala Numerik. Angka 1 dari 108, dan angka 8 dari 108; jika ditambahkan menjadi 9; yang merupakan jumlah skala numerik yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9; dan nol (0) bukanlah angka.

3. Alfabet Sanskerta. Terdapat 54 huruf dalam alphabet Sanskerta, dan masing-masing memiliki maskulin dan feminin, jiwa dan energinya; karenanya 54x2 = 108.

4. Kitab Upanisad. Upanisad sebagai kelompok kitab Sruti yang posisinya sebagai śākhā atau penjabaran kitab-kitab Catur Veda. Kitab Muktika Upanisad menyebutkan bahwa terdapat 108 kitab upanisad yang masing-masing terdiri dari 10 Upanisad yang merupakan śākhā dari Rg. Veda, 16 Upanisad yang merupakan śākhā dari Sama Veda, 51 Upanisad yang merupakan śākhā dari Yajur Veda dan 31 Upanisad yang merupakan śākhā dari Atharva Veda.

5. Japamala. Japamala biasa dikenal sebagai tasbih atau rosario. Japamala berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “Japa” (“Japam”) yang berarti mengulang-ulang mantra suci dan “Mala” yang berarti butiran-butiran yang dirangkai dengan benang. “Japa” sendiri terdiri dari dua kata pokok yaitu “JA” yang artinya menghancurkan siklus kelahiran dan kematian (punarbhawa) dan “PA” yang artinya menghancurkan segala dosa. Jumlah butir-butir ganitri (tasbih) adalah 108: 1 + (0) + 8 = 9. Jumlah kedudukan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa menurut arah mata angin adalah 9, yaitu: Ishwara (timur), Mahesora (tenggara), Brahma (selatan), Rudra (barat-daya), Mahadewa (barat), Sangkara (barat-laut), Wisnu (utara), Sambhu (timur laut) dan Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa (tengah-tengah).
 tasbih/rosario
6. Gopi Krishna. Gopi dalam bahasa Sanskerta berarti ‘wanita-gembala-sapi’. Gopi adalah para bhakta penyembah Tuhan dalam kehadiran-Nya ke dunia sebagai Awatar Krishna. Dalam tradisi Vaisnava, disebutkan jumlah Gopi Krishna adalah 108.

7. Disiplin Spiritual. Angka 108 merupakan simbol-simbol dalam disiplin spiritual. 1 merupakan simbol Tuhan atau Kebenaran (Truth), 0 merupakan simbol kekosongan (emptiness) yang merupakan puncak disiplin rohani (completeness), dan 8 merupakan simbol keabadian (eternity) atau ke-takterhingga-an (infinity).

8. Sri Yantra. Sri Chakra atau Sri Yantra adalah yantra yang dibentuk oleh tiga baris segitiga atau sembilan segitiga yang saling berhubungan dan berpotongan. Yantra adalah energi yang disebut cakra. Dalam perpotongan tersebut, terdapat 54 persimpangan antara alam semesta fisik dan sumbernya yang tiada berwujud (unmanifest), dan setiap persimpangan memiliki maskulin dan feminin. Sri Yantra ini merupakan dewi dalam bentuknya Shri Tripura Sundari Lalitha atau "keindahan dari tiga dunia". Empat dari titik segitiga ke atas mewakili Siwa atau maskulin, lima dari titik bawah segitiga mewakili feminin. Jadi Sri Yantra merupakan persatuan Ilahi Maskulin dan Feminin, karenanya, 54x 2 = 108. Karena terdiri dari sembilan segitiga, Sri Yantra dikenal sebagai Chakra Navayoni, terwujud dalam alam semesta, juga dalam tubuh manusia.

9. Spiritualitas 12x9. Dalam banyak tradisi angka 12 dan angka 9 dikatakan memiliki makna spiritual. Hasil perkalian kedua angka ini, yaitu 12x9 adalah 108.

10. Chakra Jantung. Chakra berasal dari kata Sansekerta, berarti "roda" (wheel) atau "memutar" (turning). Chakra ada pada lapisan tubuh halus manusia, dalam formasi berbentuk kipas yang semakin meningkat. Chakra adalah pusat dan garis energi. Chakra Jantung (Anahata, Heart Chakra, di daerah jantung) adalah persimpangan dari garis energi. Terdapat total 108 garis energi konvergen untuk membentuk Chakra Jantung. Salah satunya, sushumna mengarah ke Chakra Mahkota (Sahasrara, Crown Chakra, di bagian atas kepala; 'soft spot' bayi yang baru lahir), jalan menuju realisasi Diri.

11. Astrologi. Dalam astrologi Chandra Kala India, disebutkan ada 12 Rasi bintang (Chandra) dan 9 segmen busur yang disebut namshas atau chandrakalas. 12x9 = 108.

12. Waktu dan Perasaan. Beberapa ahli mengatakan ada 108 perasaan, dan perasaan-perasaan ini terkait dengan waktu; 36 perasaan terkait dengan masa lalu, 36 perasaan berkaitan dengan masa kini, dan 36 perasaan yang berkaitan dengan masa depan.

OM Tat Sat,
'‘All that is the Truth'.

OM Shanti Shanti Shanti OM
--- Ya Tuhan, Semoga Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai untuk selamanya ---

Sumber:
http://www.hinduismnet.com/significance_of_108_hinduism.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Sri_Yantrahttp://narayanasmrti.com/2011/09/16/kedudukan-upanisad-dalam-kitab-suci-veda/
http://gusmang.blogspot.com/2010/08/japamala-atau-tasbih-menurut-ajaran.html
http://www.facebook.com/groups/bangkithindu/doc/455740427781508/

Mitos tentang Kisah Berguncangnya Naga Anantaboga dan Naga Basuki

Om Swastiastu...Salam Sejahtera


Dalam tradisi Bali jika terjadi Gempa Bumi indentik dengan Naga  Anantaboga dan Naga Basuki. Hal ini pun sering menjadi pertanyaan saya sejak kecil, apa hubunganya Gempa Bumi dengan Naga? tapi selalu saja orang tua akan memberi jawaban yang biasa menurut saya yaitu "Nak Mule Keto". Berdasrkan hal tsb saya mendapatkan sumber Kisah ini yang sangat menarik saya paparkan secara logika untuk generasi penerus Hindu sekarang ini. 

TEORI terjadinya gempa bumi dan tsunami ternyata jauh sebelumnya sudah digambarkan tetua-tetua Bali. Yang lazim dikenal manusia Bali tentu saja kisah soal gerakan bedawangnala yang membuat berguncangnya Naga Anantaboga dan Naga Basuki. Sepintas terkesan sebagai dongeng. Padahal, jika dikupas lebih jauh, gambaran itu begitu logis dan seseuai deng…an teori yang diungkapkan para ilmuwan soal terjadinya gempa bumi.

Teror yang kini tengah menghantui masyarakat di Bali, termasuk di daerah-daerah lain di belahan bumi Nusantara yakni gempa bumi dan gelombang tsunami yang tiada henti berbiak. Setelah gempa bumi ditingkahi tsunami dahsyat yang meratakan Aceh akhir tahun 2004 silam, bencana alam terus saja bermunculan. Tahun 2011 lalu kawasan Negara Jepang ditikam gempa bumi diikuti tsunami yang mengakibatkan reaktor nuklirnya mengalami Kebocoran dan sekitarnya amblas serta ratusan nyawa melayang.
Bali pun tiada luput dari amukan gempa bumi juga di tahun 2011 lalu dgn skala ricter 6,8 tapi Tak ada korban jiwa, memang, tetapi cukup membuat gundah masyarakat di Pulau Dewata.
 
Gempa bumi sejatinya merupakan fenomena alam yang normal. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa bumi merupakan bagian dari dinamika bumi yang senantiasa akan muncul sepanjang zaman.
Tradisi lokal Bali pun menyuratkan gempa bumi sebagai suatu proses alami. Manusia Bali sangat mengenal mitologi bedawangnala yang menjadi dasar Gunung Mahameru. Badawangnala itu diikat oleh dua naga yakni Naga Gombang dan Naga Gini. Dalam teks-teks sastra, naga Gombang itu disebut Ananatabhoga dan naga Gini itu disebut Basuki. Ada lagi naga Taksaka yang berada di angkasa.
 
“Bila Bedawangnala itu bergerak, Anantabhoga pun bergerak. Gerakan itulah yang disebut lindu atau gempa khususnya gempa tektonik. Bila gerakan bedawangnala demikian hebat, naga Basuki pun ikut bergerak sehingga timbul tsunami,” beber Ida Pedanda Putra Yoga dari Gria Tunjuk, Marga, Tabanan.
Sepintas kisah ini terkesan sebagai dongeng semata. Padahal jika dikupas lebih dalam, paparan itu sangat logis dan ilmiah. Bedawangnala, merupakan simbol dari agni (api) yang ada di dasar bumi yakni magma. Dapat juga disejajarkan sebagai lempeng bumi. Naga Anantaboga merupakan simbol tanah. Ananta berarti tidak habis-habis, sedangkan bhoga berrati makanan. Anantabhoga berarti yang tidak habis-habis memberikan makanan. Yang tidak habis-habis menyediakan makanan bagi manusia tiada lain tanah atau Ibu Pertiwi yang melahirkan berbagai pala gantung, pala wija. Sementara Naga Basuki merupakan simbol air. Basuki berarti keselamatan atau kehidupan. Yang bisa melahirkan kehidupan adalah air. Di mana ada air, maka di sana ada sumber kehidupan.
 
Para ilmuwan modern sendiri secara sederhana membahasakan terjadinya gempa bumi akibat adanya tumbukan antarlempeng bumi, patahan aktif aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Saat lempeng bumi bertumbukan, tanah pun ikut berguncang. Bila tumbukan terjadi di dasar laut dengan kekuatan di atas 6 SR dan kedalaman yang dangkal, air laut pun naik yang dikenal dengan nama tsunami. Bukankah tidak jauh berbeda dengan gambaran kisah bedawangnala itu?

Kisah soal bedawangnala diikat Anantabhoga dan Basuki ini kemudian divisualisasikan dalam wujud pelinggih padmasana. Selain itu, dalam sejumlah ritual penting di Bali, visualisasi itu pun dapat dilihat dari sarana upacara yang dihaturkan.
“Pelinggih dan upacara yang kita laksanakan itu merupakan miniatur dari lapisan-lapisan bumi serta menggambarkan proses yang terjadi di alam ini,” ujar Ida Pedanda.
Hindu sendiri mengenal bumi mempunyai tujuh lapisan yang dinamai sapta patala. Sapta patala itu yakni patala, atala, witala, nitala, talatala, mahatala dan sutala. Ilmuwan modern pun menyebut bumi ini terdiri dari sejumlah lapisan bumi seperti litosfer, astenosfer serta mesosfer. Lapisan-lapisan ini senantiasa bergerak mencapai titik keseimbangannya. Dalam upaya mencapai titik keseimbangan itu tentu saja ada perubahan, pergeseran atau ada lapisan yang lepas.
 
Karenanya, budayawan Ketut Sumarta menyatakan dalam kamus alam tidak ada istilah bencana. Tak pula ada cerita soal alam yang marah. Alam tak pernah marah, malah sangat pemurah. Alam hanya berusaha mencapai keseimbangan sesuai hukum yang dimilikinya.
“Bila alam tidak seimbang, maka alam sendirilah yang akan menyeimbangkannya,” ujar Sumarta.
 
Karena itulah, tradisi beragama masyarakat bali tidak pernah lepas dari spirit untuk menjaga keseimbangan alam. Manusia sebagai bagian dari alam tidak bisa luput dari hukum keseimbangan alam itu. Untuk itu, jalan satu-satunya yang harus dipilih manusia adalah menyesuaikan diri dengan alam. Alam mestilah diakrabi, disayangi, dirawat sehingga manusia pun turut dirawat dan dijaga. Jika manusia angkuh menentang alam, maka alam akan menagihnya kembali dengan caranya sendiri.
Dalam bahasa Ida Pedanda Putra Yoga, manusia jangan hanya ingat dan bisa mengambil dari alam, tetapi juga bisa memberi. Ida Pedanda lalu mengibaratkan dengan pelinggih yang senantiasa berisi pedagingan. Jika manusia hanya mengambil terus pedagingan itu tanpa memupuk, maka dunia pun jadi guncang. Semoga bermanfaat.
Om Shanti Shanti Shanti om...


sumber : [http://pojok-bali.blogspot.com/2009/12/kisah-berguncangnya-naga-anantaboga-dan.html]

Kutemukan Cinta (Sebuah Perjalanan, Proses Pencarian Jati Diri: Islam, Kristen, Hindu)

Aku lahir dalam keluarga muslim dengan nama Maisah, orang tua dan masyarakat sekitar (di Lombok) sering memanggilku Aisah. Dapat dikatakan aku di didik dengan cukup taat khususnya dalam bidang agama, karena orang tua merupakan seorang Haji dan Hajah yg berarti mereka sudah pernah hijrah ke tanah suci. Selain itu bapak juga sangat menjaga citranya di masyarakat sehingga sering terkesan memaksa aku untuk belajar ngaji, dan mendirikan wajib sholat lima kali sehari. Yg paling sering membuatku kesal adalah, saat dimana aku sedang tidur dengan lelap tetapi harus bangun untuk menjalankan sholat subuh pukul 05:00 pagi. Keadaan ini sangat berbeda dengan bapak, beliau merupakan panutan yg baik, walau dalam keadaan sakit sekalipun tetap berusaha untuk menunaikan sholat. Karena hal tersebut aku sering merasa malu dan berusaha untuk patuh, minimal pada orang tua. Maka kulakukan semua kewajiban sebagai anak dan beragama Islam sebagaimana mestinya.

Ketika SD aku tidak seperti anak-anak pada umumnya yg sangat rajin, selalu riang jika tiba saatnya belajar ngaji. Bahkan, pada saat aku duduk dibangku kelas 5, aku tidak diberikan rapot karena tidak begitu fasih dalam membaca Al'quran disebabkan aku jarang kepesantren seperti teman-teman yg lainnya. Guru agamaku sangatlah tegas sehingga akupun sering kena hukum seperti berdiri di depan kelas dan lari mengelilingi lapangan atau dijewer. Alhasil bapak menjadi malu karena mendengar prestasiku yg sangat buruk khususnya dalam bidang agama. Beliau akhirnya tidak tahan mendengar laporan dari guru agamaku tersebut yg kebetulan kediamannya tidak terlalu jauh dengan rumah kami dan memutuskan untuk mengobatiku dengan mengunjungi seorang uztad, darinya aku diberikan air yg sebelumnya telah didoakan ayat-ayat suci. Tidak hanya itu, bapak juga membawaku pada seorang dukun. Tetapi dari kesekian usaha yg dilakukan tidak ada satupun yg membuahkan hasil, aku sama sekali tidak menunjukkan perubahan.

Gambaran masa kecilku khususnya dalam hal agama, kubawa hingga beranjak dewasa. Walau merupakan anak pesantren yg sehari-hari mendapat pendidikan berbasis agama, tetapi aku tidak pernah begitu benar-benar beriman pada Allah. Jika ada yg bertanya, aku pun tidak tau mengapa. Mungkin aku memang tidak pantas disebut sebagai muslimat (seseorang yg tunduk kepada Allah), karena ketidak patuhanku memang mencerminkan diriku yg sesungguhnya.

Atas kesadaranku sendiri, aku mulai menganalisa fenomena dalam diri. Kesulitanku untuk dapat mengatakan (minimal pada diri sendiri) bahwa aku seorang muslim adalah, bagaimana aku dapat memvisualisasikan Allah dalam pikiran? Konon, "Allah tidak serupa dengan apapun", sebagai gantinya Dia dapat dikenali  melalui 99 nama/julukan Allah (asma'ul husna) yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya, ketika itu aku berpikir bahwa jika ada sifat maka terlebih dahulu harus ada sosok-Nya.

Lantas mengapa Dia sangat berat hati untuk dapat dikenali melalui gambar/wujud? Karena tindakan tersebut dapat berujung pada pemujaan berhala yg justru merupakan penghinaan bagi-Nya? Perbuatan bid'ah dan mengantarkan kepada kesyirikan? Hingga akhirnya aku berkesimpulan, bahwa aku memang tidak dapat menerima definisi abstrak sebagaimana konsep ketuhanan yg terkandung dalam agama Islam.

Mungkin aku masih terlalu belia untuk memikirkan hal semacam ini, tetapi sebuah media untuk memusatkan pikiran agar dapat focus juga merupakan kebutuhan yg signifikan dan tidak memandang usia jika berbicara tentang ketuhanan. Bagiku, mengosongkan pikiran merupakan sebuah kondisi yg teramat sangat sulit, bagaimana mungkin manusia dengan segala keterbatasannya mampu menjangkau Dia yg tidak terbatas? Walau aku bersikukuh dan mempunyai pendirian yg kuat namun sebagai manusia yg merasa kecil dihadapan-Nya sudah tentu aku memiliki rasa takut akan siksa kubur ataupun azab Allah. Konon, Rasulullah bersabda: "Manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat ialah yang meniru ciptaan Allah".

Pada tahun 2008 aku memutuskan untuk ke Bali, inilah yg menjadi awal perjalananku memeluk agama Kristen. Singkat cerita, aku bekerja sebagai karyawati di Jalan Padma - Kuta, sebuah Art Shop yg menjual pernak-pernik dari bahan perak. Bosku keturunan Chinese, beliau berusia 33 tahun, memiliki seorang istri namun belum dikaruniai seorang anak pun. Kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Injil Philadelphia yg dapat dikatakan cukup agresif dalam menyebarkan agama Kristen, walau tidak tergabung dalam suatu organisasi tertentu tetapi keinginan untuk mengkonversi non-kristen begitu terasa di lingkungan pegawai. Seperti memberikan Alkitab secara cuma-cuma, menganjurkan untuk kegereja, berkotbah dan lain sebagainya.

Suatu ketika beliau memberikanku sebuah alkitab (yg hingga kini masih kusimpan), berawal dari sana beliau pun mulai memperkenalkan agama Kristen.
Ah, walaupun aku hanya Islam KTP, namun tak pernah sekalipun terlintas keinginan dalam benakku untuk pindah agama, aku masih ingin terus menggali dan mencari hal-hal yg belum kuketahui dalam agama Islam. Kujalani semuanya bagai air, yg tanpa kusadari ternyata aku telah membuat sebuah keputusan.

Perlahan tapi pasti, beliau semakin intensif dalam usahanya untuk mengkonversi aku. Beliau memperkenalkanku pada orang-orang yg bersaksi atas nama Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Pada umumnya mereka bercerita tentang mukjizat Yesus dan kedamaian yg telah mereka temukan. Mereka terlihat seperti orang-orang yg menaruh rasa kasih yg sangat besar padaku dalam usahanya untuk meyakinkanku bahwa Yesus Kristus merupakan juru selamat manusia-manusia yg bergelimang dosa. Dan yg paling mengesankan, mereka juga berceritakan tentang figur Yesus yg baik dan sabar, cinta kasih-Nya yg teramat besar, melalui kematian-Nya di kayu salib telah menebus seluruh dosa umat manusia. Wow...

Dalam kesempatan berikutnya, bos memperkenalkanku pada  pak Joko, orang islam yg telah murtad dan memeluk agama kristen. Beliau adalah orang Solo yg hijrah ke tanah Bali karena diperlakukan diskriminatif oleh keluarga serta lingkungannya. Kemudian pak Joko menikah dengan orang Hindu Bali dan telah dikaruniai dua orang anak. Atas anjuran dari bos, pada hari minggu pak Joko mengajakku ke gereja dekat bandara Ngrurah Rai, setibanya disana kami duduk sambil menunggu jemaat yang belum datang. Karena ini merupakan pertama kalinya aku menghadiri kebhaktian aku tidak tau harus berbuat apa. Beliau lantas memberikan aku buku panduan dan sempat mengajariku beberapa doa, salah satu diantaranya adalah doa yg dikenal cukup ampuh diantara doa-doa yg lainnya. "Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yg secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni tiap orang yg bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan. Sebab Engkau yg empunya kerajaan di bumi dan di surga. Di dalam nama Yesus kami berdoa amin." Adalah sebait doa dalam kekristenan yg pertama kali kudengar dan kulafalkan.

Satu persatu Jemaat berdatangan dan duduk dalam barisan kursi yg mengahadap ke altar, semuanya menyanyikan Lagu Pujian dilanjutkan dengan mendengarkan kotbah prihal Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa. Khotbah adalah suatu kegiatan dalam mewartakan alkitab secara bertahap dan berkesinambungan yang dipimpin oleh seorang Pendeta didepan para jemaat. Dan sebelum doa penutupan, kulihat ada beberapa orang yg membawa Kantong Persembahan bertugas untuk memungut sedekah dari Jemaat yg hadir untuk digunakan dalam merenovasi gereja atau membantu orang-orang miskin. Setiap minggu pertama mereka (jemaat) juga diminta untuk membayar Persepuluhan. Menurut Alkitab, persepuluh adalah persepuluh dari hasil pekerjaan yang kita berikan pada Tuhan. Ketika kutanyakan pada pak Joko, beliau lantas menunjukkan dalilnya yg berbunyi: " Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu kedalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan dirumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membuka tingkap-tingkap langit mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan (Maleakhi 3 :10)"

Melalui pak Joko, aku berkenalan dengan mbak Atik sepupunya. Hampir setiap hari minggu mbak Atik mengajakku ke gereja Baithani di jalan Teuku Umar. Berbeda dengan pak Joko, mbak Atik tidak tergabung dalam organisasi gereja, jadi dia tidak hanya mengajakku ke satu gereja saja. Kami juga menghadiri kebhaktian disebuah gereja yg terletak di pertokoan Clandy's Jalan Buluh Indah, Gatzu dan dibeberapa tempat lainnya. Lambat laun, akupun mulai terbiasa dengan suasana gereja, beradaptasi, dan mengenali tokoh-tokoh dalam agama kristen. Suatu hari pak Joko berkunjung ke tempatku untuk memperkenalkanku pada seorang temannya. Sebut saja namanya pak Andre, beliau mempunyai teman seorang pendeta (pak Erick) yg kelak membabtis aku.

Dalam beberapa kesempatan aku sering di undang oleh bos kerumahnya untuk mendiskusikan atau memperlihatkan kesaksian dari orang-orang yg telah menerima mukjizat Yesus Kristus melalui vidio rekaman yg sudah dipersiapkan. Beliau juga memperlihatkan vidio kekerasan yg di lakukan oleh orang-orang Islam. Karena menurutku tayangan tersebut dapat dikatakan cukup kejam, spontan saja mulutku berucap "Masya Allah". Akupun langsung dimarahi, dan sekali lagi beliau menunjukkan sebuah rekaman di dalam Ka'bah yg ternyata terdapat sejumblah patung-patung yg tidak diketahui oleh orang islam pada umumnya. Selain itu dalam salah satu rekaman terdapat orang Islam yg sedang sholat memohon agar Allah Swt menunjukkan wujud-Nya. Dalam seketika dan sekejap mata muncul cahaya terang dengan wujud Nabi Isa yg tiada lain adalah Yesus Kristus, semenjak saat itulah orang tersebut menjadi murtad. Terlepas dari kebenaran mengenai vidio tersebut, akupun semakin yakin untuk memeluk agama kristen.

Pada tanggal 25/12/2008 aku diajak ke Gereja (katolik) di Kuta bersama bos juga istrinya dan beberapa teman mereka untuk merayakan Natal. Seperti biasa, aku mengkuti semua orang yg hadir untuk berdoa bersama-sama. Tidak lupa, bos juga memperkenalkanku pada pada orang-orang gereja, mereka terlihat antusias apalagi setelah diceritakan secara singkat tentang jati diriku yg sebenarnya sebagai seseorang yg sebelumnya beragama islam. Disela-sela waktu yg ada bos mempertanyakan prihal kemantapanku dalam meyakini Yesus Kristus, beliau berkata jika memang aku ingin diselamatkan maka aku harus bersedia untuk di babtis. Namun istri bos manasehati agar aku tidak gegabah dalam mengambil sebuah keputusan dan memikirkan akibatnya bila kelak diketahui oleh orang tua di Lombok, sebagaimana yg dialami pak Joko, tidak diterima oleh keluarga dan dikucilkan masyarakat sekitar yg mayoritas beragama islam. Walaupun demikian, beliau meyakinkanku dengan mengutip (Mazmur 27:10) yg berbunyi: "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku", yg berarti aman dalam perlindungan Allah atau Bapa di Sorga.

Akhirnya, pada tanggal 12/04/2009 yg bertepatan dengan hari Paskah aku di babtis dengan nama Mayshia Ruth di Gereja Lembah Pujian jalan Gatsu Timur oleh pak Erick yg memang sering membabtis para jemaat, baik yg lahir dalam keluarga Kristen maupun yg pindah agama. Semua orang mendoakan, aku sangat senang atas segala penyambutan dan keramahan dari wajah setiap orang yg hadir, selain itu dengan kelahiranku yg baru, aku telah diselamatkan oleh Yesus Kristus Sang Juru Selamat, seluruh dosa telah di tebus dengan darah-Nya yg kudus melalui kematian-Nya di kayu salib. Inilah yg menjadi motif mengapa aku sampai memutuskan memeluk agama Kristen.

Hingga suatu hari aku merenungi semuanya, aku di babtis tanpa ijin dan tanpa sepengetahuan orang tua juga keluarga dikampung. Takut dan bingung itu pasti.
Tidaklah ketakutanku dikarenakan telah mengkhianati agamaku yg sebelumnya, tetapi apa yg akan terjadi jika keluarga di Lombok sampai tahu? Membayangkannya pun aku tidak mampu. Tetapi syukurlah, semua kekhawatiran lenyap untuk sementara waktu karena bosku sangat sayang dan begitu memperhatikanku. Bahkan, karena beliau belum mempunyai keturunan aku di adopsinya, walau tidak secara hukum. Aku tinggal bersama keluarga papa (bos yg kini menjadi orang tua angkatku), mama, oma dan seorang PRT sebut saja namanya mbak Cantika). Tidak hanya itu, beliau juga memenuhi semua kebutuhan hidupku, mulai dari privat bahasa inggris, les komputer, dan beberapa fasilitas lain yg sebelumnya belum pernah aku miliki dan rasakan. Dalam sekejap mata kehidupan rohaniku hingga hal-hal yg menyangkut materi mengalami perubahan.

Seiring berjalannya waktu, keimananku semakin bertambah kuat bahkan melebihi agama sebelumnya yg masih tertulis dalam KTP. Atas dukungan dari papa, setiap minggu aku begitu semangat dan rajin ke gereja, aktif dalam setiap kegiatan yg di selenggarakan oleh gereja. Seperti Natal di tahun berikutnya, aku menyambut jemaat dengan tari Tamborin. Ketika Hari Sabat, aku sebagai salah satu dari organisasi Jemaat Remaja mengadakan pementasaan yg mengisahkan saat dimana Yesus Kristus di siksa dan kemudian disalibkan.

Saat itu aku merasa sangat bahagia, hidupku damai, walau terkadang perasaan itu berujung kekhawatiran bila pikiranku tertuju ke kampung halaman, pada orang tua dan adik-adikku. Terlebih setelah aku tahu, kalau papa tidak mencintaiku sebagai individu yg utuh, aku dilarang berbahasa indonesia dengan logat Lombok, dilarang mengatakan ke orang lain tentang identitasku yg sebenarnya. Kutanyakan mengapa, papa menjawab, bahwa pandangan masyarakat pada umumnya sangat buruk terhadap orang Lombok, kehidupannya sangat dekat dengan hal-hal yg berbau klenik. Dalam hatiku berkata, apa yg dikatakan papa memang tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Ketika itu aku hanya diam saja, karena merasa tidak mampu, tidak mempunyai keberanian untuk sedikit meluruskan pandangan buruk tersebut, minimal kepada papa, karena papa orangnya tidak suka di tentang. Lebih dari itu, beliau berusaha keras agar dapat memisahkan aku dengan orang tua kandung dengan meyakinkanku bahwa kasih sayang papa melebihi bapak di Lombok. Secara materi papa juga lebih mampu memenuhi apa saja yg aku inginkan, tidak sebagaimana bapak. Yg pada akhirnya aku sadar, bahwa papa ingin membuatku lupa diri dengan bergelimang materi.

Mbak Cantika adalah orang yg dengan setia menemani hari-hariku, darinya aku tau bahwa ada ketidak sepakatan antara papa dan mama juga oma prihal mengadopsi aku. Sejak awal, mereka (mama, oma dan keluarga besarnya) memang tidak begitu suka padaku, terlebih ketika menyadari setelah kehadiranku di dalam keluarga itu, kasih sayang papa, perhatian dan lain sebagainya menjadi terbagi. Seiring bertumbuh besarnya kasih sayang papa, begitu juga dengan kebencian mama. Tanpa sepengetahuan papa, mama sering menghinaku dengan sebutan anak kampung yg tidak tau diri, ia juga pernah berkata akan membayarku berapa saja asal aku pergi dari rumah itu. Bahkan oma tidak segan-segan menunjukkan sikapnya yg tidak manusiawi, walau dalam keadaan lumpuh ia berusaha meraih rambutku dan menjambak-jambaknya. Namun berbeda ceritanya jika papa ada di rumah, semuanya bersikap sangat baik, lemah lembut, aku di perlakukan bak seorang putri raja. Walau papa sangat menyayangiku namun terkadang ia bersikap tempramental dengan memukul jika aku melakukan kesalahan yg harusnya dapat dimaklumi dan disikapi dngan bijak. Kadang aku juga di hukum berlutut hingga dua jam lamanya, yg terjadi karena fitnah mama maupun oma. Aku ingin mengatakan yg sebenarnya tapi tidak berani, karna setelah aku pikir-pikir terlalu beresiko. Jika aku mengadu prihal yg sesungguhnya, perseteruan atau bahkan perpecahan diantara kedua belah pihak tidak terelakkan. Maka kuputuskan untuk membungkam mulutku, sambil menahan hinaan dan semua perlakuan mereka. Aku berkomitmen, sebagaimana keharmonisan dalam keluarga yg aku rasakan sejak pertama kali menginjakkan kaki dirumah ini, seperti itu pula aku akan berusaha sekuat mungkin untuk menjaganya.

Aku begitu mengilhami apa yg dikatakan orang-orang gereja, atas segala perlakuan dan ketidak adilan aku larut dalam kesedihan dan semakin khusuk dalam doa. Aku berhasrat, bahwasanya Yesus Kristus akan menyelamatkanku dari semua permasalahan hidup. Minimal Ia akan menampakkan wujud-Nya, agar aku merasa tidak sendiri hadapi cobaan hidup ini. Kadang aku merasa tidak tahan lagi dan terlintas dalam pikiran untuk pergi, tapi kemana? Bila harus kembali ke Lombok, bagaimana aku dapat menjalankan agama Kristen?

30 Maret 20011, tanpa sepengetahuan siapapun, diam-diam aku menjalin hubungan sebagai sepasangkekasih dengan orang Bali, sebut saja namanya krisna. Ia bukanlah sosok yg di dambakan papa, dengan syarat mutlak beragama Kristen. Maka, kamipun sepakat untuk menjalani hubungan ini dengan backstreet, karena jika diketahui, terlebih oleh papa, hubungan kami pasti akan ditentang. Terlebih pandangan papa terhadap orang Bali maupun agamanya tidak terlalu baik, seperti pemujaan berhala yg dalam kekristenan merupakan suatu tindakan untuk menyekutukan, atau menduakan-Nya. Orang Bali yg gila judi dan juga mabuk-mabukan.

Sudah menjadi rutinitasku bila hari minggu selalu menghadiri kebhaktian di Gereja, kemudian pulang lebih awal untuk bertemu kekasih hati walau hanya sesaat. Tapi ada yg tidak biasa, berbekal kotbah yg disampaikan Pendeta, aku menemui pacarku dengan sebuah pertanyaan dikepala. Apakah benar, karmaphala sebagai salah satu dasar keimanan dalam agama Hindu merupakan hukum yg tidak menganal cinta kasih, hukum yg tidak mengenal ampun? Tidak sebagaimana yg diajarkan Yesus Kristus dalam kekristenan?. Yg ternyata, secara tidak langsung merupakan awal bagiku mempelajari agama Hindu.

Krisna: lima dasar keimanan agama Hindu di sebut Panca Sraddha, yg meliputi: Percaya terhadap Brahman/Hyang Widdhi/Tuhan.Percaya terhadap Atman yg menghidupi setiap makhluk, termasuk binatang.Percaya terhadap hukum Karmaphala, hukum sebab akibat, dalam logika matematika dapat ditulis "jika-maka". percaya terhadap kelahiran kembali yg disebut dg Samsara/Punarbhawa/reinkarnasi. Dan yg terakhir adalah percaya terhadap adanya Moksa, sebagai tujuan tertinggi agama hindu, Atman/jiwa individu mencapai pembebasan dr putaran roda kelahiran, bersatunya Atman dengan Brahman. Ibarat air dari berbagai sumber yg pada akhirnya kembali kesamudra luas.

Mengenai pertanyaanmu, Karmaphala terdiri dari dua kata, yakni Karma dan Phala. Karma berarti perbuatan, dan phala berarti hasil. Jadi Karmaphala dapat diartikan sebagai hasil perbuatan. Karmaphala merupakan rta/hukum alam, jadi didunia ini tidak ada satu tempat bagi seluruh makhluk untuk bersembunyi darinya, diakui atau tidak, hukum tersebut tetap berlaku, bahkan pada orang yg tidak percaya sekalipun. Ini bukanlah pemaksaan, tetapi kebenaran yg hakiki, luas dan besar bahkan tak mampu dibendung oleh tembok-tembok agama manapun. Karmaphala merupakan konsekuensi logis dr setiap perbuatan yg dilakukan manusia, ibarat petani yg menanam padi tidaklah mungkin jika kemudian ia memanen mutiara. Karmaphala mendudukkan Tuhan sebagai Yang Maha Adil, kemudian melalui Samsara/Punarbhawa/Reinkarnasi Beliau menjalankan fungsinya sebagai yang maha pengasih dan penyayang, sekaligus "pengampun" karena senantiasa memberikan kesempatan untuk bertobat, berbuat sesuai dengan dharma atau kebenaran, yg meliputi hukum alam baik yg bersifat fisik, energi maupun mental. Perlu di ingat, dalam agama Hindu tidak ada yg namanya "dosa" yg berarti menjadi terhukum selamanya dalam kubangan api neraka.

Apa yg disampaikan Pendeta di Gereja tidak hanya salah, keliru, tetapi sudah menjelek-jelekkan, menyesatkan. Karmaphala bereaksi melalui tiga hal, yg di dalam Hindu disebut Tri Kaya Parisudha, meliputi Kayika - Pikiran, Wacika - perkataan dan Manacika - perbuatan. Maka, dari sudut pandang ini, pendeta telah membuat karmanya sendiri, yg cepat atau lambat akan menuai phala/hasilnya.

Sempat terjadi interaksi diantara kami berdua dan akupun terus mengajukan beberapa pertanyaan. Entah mengapa jawaban-jawaban yg aku dapat begitu mengusik pikiran dan membuatku gelisah. Bukan hanya karena dapat diterima secara logika tetapi selain membahas dasar keimanan hindu, dasar keimananku pada kristen pun sedang dipertaruhkan. Namun secepat mungkin aku menepisnya. Meski cukup memuaskan rasa ingin tauku, tidaklah kemudian aku jadikan acuan untuk pindah agama. Berusaha "menyadarkan diri", bahwa setiap orang pada akhirnya akan membutuhkan sosok penyelamat, atau pengampunan dosa, seperti yg diajarkan dalam kekristenan yg menjadi  dasar keimananku pada Yesus Kristus.

Satu bulan kami mengikat diri sebagai sepasang kekasih, krisna mempertanyakan keseriusanku dalam memperjuangkan hubungan kami. Sebagai wanita, tentu saja aku merasa senang, tetapi menjadi berbeda ketika komitmen yg hendak kami bangun terhalang oleh tembok pemisah yg di sebut agama. Aku merasa sanggup untuk melakukan apa saja demi mewujudkan harapan-harapan kami di masa depan, tetapi aku merasa tidak bisa meninggalkan agama kristen sebab jika aku melakukan hal tersebut siapakah aku yg tahan berdiri menghadapi geram-Nya, dan siapakah aku yg tahan tegak terhadap murka-Nya yg bernyala-nyala? Menurut Perjanjian Lama, Tuhan itu Allah yg cemburu dan pembalas, Tuhan itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. Tuhan itu pembalas kepada para lawan-Nya. Dan pendendam kepada para musuh-Nya.

Dengan nada kesal lantas ia berkata: "Pernahkah km menyadari, bahwa sedari dulu km tidak pernah di selamatkan, karena keimananmu pada-Nya di bangun dengan kebencian. Benci yg melihat ke bawah adalah menghina (memandang rendah), benci pada yg sederajat adalah marah dan angkuh, mengagungkan diri. Dan terakhir, benci yg melihat keatas adalah takut. Ya... Km takut pada Tuhan. Jika km beriman pada-Nya hanya karena rasa takut sesungguhnya km sedang membenci-Nya! Tidaklah begitu caranya, kekudusan Tuhan itu untuk dicintai, sehingga dengan demikian kita akan senantiasa ingin mendekatkan diri pada-Nya dengan rasa nyaman". Saat itu aku hanya diam dan tidak bicara apa, di satu sisi aku merasa di tampar oleh kata-kata tersebut dan disisi lain aku juga kagum akan pemikiran yg ia miliki.

Sebagai orang yg paling dekat dan mengerti aku, hanya dengan krisna seorang aku berbagi dalam suka maupun duka, menumpahkan kesedihan dan lain sebagainya. Memahamiku dalam banyak hal, melebihi diriku sendiri. Pola pikir yg kritis, pribadinya yg baik dan cukup bijak dalam memberikan solusi membuatku ingin selalu mendiskusikan beberapa hal, entah yg menyangkut tentang kehidupan pribadi maupun agama. Ketika itu, aku mengeluh psimis, bahwasanya cobaan hidupku sangat berat, aku di belunggu oleh masalah-masalah yg sangat pelik. Konon, Tuhan tidak akan memberikan cobaan melampaui kemampuan umatnya, tetapi apa yg aku alami hampir membuat putus asa. Aku harus bagaimana?

Krisna: Bila aku harus membagi pemikiran denganmu, yg harus km lakukan adalah mengubah pola pikirmu. Mengapa?
Menurutku, pernyataanmu tentang hidup adalah cobaan sungguh tidak mendasar. Apakah Tuhan tidak punya kerjaan sehingga menguji coba ciptaan-Nya hanya untuk memuaskan rasa ingin tau-Nya? Bukankah Tuhan sudah pasti maha tau? Dalam kesadaran yg murni, coba km renungkan atas dasar apa Tuhan mencoba umat-Nya?

Kenyataan hidup yg km hadapi, baik dan buruk adalah hasil dari karma/perbuatanmu sendiri. Dari perspektif agamaku, tidak ada kemujuran merupakan suatu kebetulan, dan tidak ada nasib buruk sebagai takdir-Nya. Apapun yg km alami merupakan phala/hasil dari tindakanmu semata. Dengan meyakini hukum karmaphala, berarti km telah menjadi pribadi yg berjiwa ksatria/ksatriani, berani berbuat berani pula untuk bertanggung jawab. Dan camkan dengan baik, seseorang yg berjiwa ksatria/ksatriani tidak butuh pengampunan dosa, terlebih dengan melimpahkan asubha karma/hasil perbuatan buruk pada sosok yg km sebut sebagai penyelamat.

May: Mengapa km sangat percaya diri dan begitu berani? Apakah km tidak pernah berpikir bahwa perbandingan ini akan menyakiti hatiku dan mempengaruhi hubungan diantara kita?
Krisna: Itu karena diskusi ini memaksaku untuk berkata jujur. Aku paham betul dengan apa yg aku katakan, tapi kemudian apakah km berjalan dari hati yg murni atau dari sikap fanatisme buta?
May: Apa hanya agamamu yg paling benar?
Krisna: Kebenaran yg hakiki harusnya tidak di belenggu oleh suatu apapun, mengapa km berpikir seperti itu?

May: Lantas apakah yg aku alami merupakan karma/perbuatanku sendiri?
Krisna: Ya... Tentu.
May: Tetapi aku merasa tidak pernah membuat kesalahan sebagaimana akibat yg telah aku terima.
Krisna:Itu hanya perasaanmu saja, menurutku dalam kehidupan ini km telah membuat "kesalahan". Pertama, km pindah agama dengan tidak mempelajarinya terlebih dahulu, km hanya di suguhi "pemanis" belaka. Jika ingin mengenali suatu agama pelajarilah kitab sucinya kemudian telaah dengan logika, juga rasa. Dan yg kedua, km dianggap sebagai anak angkat tetapi tidak mengadakan pendekatan ke mama, dan oma serta keluarga besar papamu.

Suatu hari aku menghadiri kebhaktian di gereja yg selama ini menjadi tempat bagiku memanjatkan doa. Semua berjalan sebagaimana biasa, usai doa pendeta berkotbah bahwa merupakan kewajiban bagi pengikut Kristus untuk mewartakan agama kristen. Sepulangnya dari gereja, aku menemui Krisna dengan mendiskusikan hal tersebut. Ia berkata: "Dengan dalil bahwa di dunia tidak ada seorangpun yg Tuhan telah pilih untuk menyelamatkan umat manusia; keselamatan hanya ditemukan melalui Dia (Yesus), membuat agama kristen semakin haus dan lapar serta penuh ambisi."

Saat itu aku merasa bahwa apa yg ia katakan adalah benar, bahkan mungkin tanpa aku sadari dahulu aku merupakan target yg papa bidik? Di dalam gereja merupakan pemandangan yg sudah lazim kujumpai orang Hindu Bali pindah agama. Kadang, beberapa dari mereka ada yg kerasukan, teriak-teriak, menjerit histeris. Orang-orang gereja mengatakan bahwa "setan" nya orang Bali sedang dikeluarkan. Dalam diskusi berikutnya krisna mengatakan: Di dalam Hindu, tidak mengenal istilah setan atau iblis, yg berarti eksistensi sesuatu yg "anti Tuhan", bergerak dan bekerja melawan Tuhan. Jika Tuhan tidak ada dalam diri Setan dan Iblis atau bahkan tempat yg dianggap maksiat sekalipun tentu Dia tidak pantas di sebut sebagai Yang Maha Besar. Dalam mitologi hindu terdapat makhluk kegelapan yg disebut Asura, namun merekapun tunduk pada kekuatan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Kali.

Pada minggu-minggu berikutnya tiba-tiba saja aku merasa malas untuk datang ke gereja dan lebih memilih untuk menghabiskan waktuku yg terbatas bersama pujaan hati, selain dapat melampiaskan kerinduan, hubunganku dengannya telah menumbuhkan minatku pada agama hindu untuk belajar lebih intensif. Kami sering mendiskusikan konsep ketuhanan khususnya agama-agama yg pernah aku imani sebelumnya dengan konsep ketuhanan didalam hindu.

Krisna: Menurut logikamu dan agama yg km imani dimanakah Tuhan berada?
May:Menurutku Tuhan ada dalam setiap hati insani, dan sejauh yg kutau Allah bertempat di sorga. Lantas bagaimana menurutmu dan agamamu?
Krisna:Baiklah, kita akan bahas satu persatu, yg pertamana "Tuhan ada didalam diri setiap insani" dan yg kedua "Allah bertempat di sorga". Dari pernyataanmu itu tibul sebuah pertanyaan dalam benakku, apakah Dia hanya ada didalam diri manusia saja? Aku meyakini bahwa Tuhan Maha Besar, jadi keberadaan-Nya tidak dapat disangsikan. Jika Dia ada dalam dirimu, maka sudah pasti Dia juga ada diluar dirimu, dalam diri orang lain, setiap makhluk dan semua ciptaan-Nya. Dia ada dimana-mana.
May: Baiklah, aku paham sekarang. Lantas apakah Dia juga ada dalam bentuk sesuatu yg dianggap najis?
Krisna:Sudah tentu sayang, apa keberatannya Tuhan untuk berada dalam tubuh anjing, babi, atau bahkan kotoran sekalipun? Tuhan didalam agama hindu dapat dianalogikan seperti matahari. Ia tidak menjadi lebih terang dengan menyinari tempat yg dianggap suci oleh manusia, dan kemudian tidak menjadi lebih redup dengan menyinari kotoran, matahari tetap meninari dengan cahaya yg sama. Matahari tidak terkontaminasi oleh benda didunia.
May: Lantas apakah Tuhan ada dalam kotoran? Hehehe... (aku tertawa kecil).
Krisna: Ya. Dengan tegas aku katakan Dia ada! Hanya saja kita merasa gelisah dengan persepsi tersebut karena perasaan cinta yg senantiasa ingin memuliakan Dia pada tempat yg istimewa.

Dan seiring berjalannya waktu, melalui bimbingannya aku juga mulai mempraktekkan ajaran agama hindu seperti meditasi yg dalam bahasa sansekerta padanan istilah ini adalah Dhyana, yakni memusatkan perhatian dengan terus menerus pada sesuatu yg dijadikan objek meditasi. Ketika itu aku merasa tertarik melihat image Dewi Kali yg kujumpai dalam folder notebooknya. Beberapa hari kemudian, aku bermimpi di datangi oleh sosok yg sungguh sangat menyeramkan, berpakaian serba putih dengan rambut urak-urakan, sekilas dalam ingatanku sosoknya sedikit menyerupai Dewi Kali.

Kutanyakan pada Krisna prihal mimpiku tersebut dengan jujur dia mengatakan, "Meski sejak lahir aku sudah memeluk agama hindu dan setelah mengalami proses pendewasaan diri memulai praktek spiritual tapi aku tidak terlalu maju, jadi aku tidak tau prihal mimpimu itu. Tetapi mungkin saja sosok yg hadir dalam mimpimu itu adalah Dia, Bunda Kali, sebagai reaksi dari Dhyana yg telah km lakukan. Km adalah bhakta-Nya, dan Beliau pasti akan menemuimu dalam banyak cara dan juga rupa-Nya.

Kami berdua sangat jarang bertatap muka, walaupun demikian komunikasi antara kami tidak pernah putus, entah melalui telp, sms dan facebook. Suatu hari usai chatting aku lupa log out dan delete semua isi percakapan diantara kami, celakanya pada saat yg sama papa memeriksa laptop dan terbongkarlah semua rahasiaku. Papa sangat marah, dan saking emosinya ia melempar handphoneku ke tembok hingga menjadi beberapa bagian, laptop dan semua alat komunikasi di sita. Tidak hanya sebatas itu, papa juga melarangku bepergian, tetapi jika harus, aku diantar papa atau sopir pribadinya. Setelah sekian hari aku menghilang tanpa jejak dan tidak memberi kabar pada krisna, akhirnya aku mencuri-curi waktu, saat papa sedang tertidur aku mengambil handphonenya dan sms krisna untuk menceritakan semuanya.

Selama masa pengasingan papa memintaku untuk melupakan krisna, terlebih setelah membaca status-statusnya yg kontroversial dalam mengkritisi agama-agama yg tidak sesuai dengan persepsi pribadinya sehingga sering membuat gaduh. Dan ternyata papa sudah merasa ada yg berbeda dengan diriku selama beberapa bulan terakhir, karena aku mulai berani melawan (baca: membela diri) yg sering mengundang perdebatan diantara kami atau paling tidak bersikap acuh. Tidak hanya itu, papa juga berusaha menanamkan opini buruk tentang orang bali yg pada umumnya sering mabuk-mabukkan, berjudi, dan tentu saja menilai agama hindu dari perspektif agama kristen. Hampir selama dua bulan papa berusaha keras untuk mempengaruhi aku, dan tentu saja mempertanyakan keimananku pada agama kristen yg sesungguhnya pada saat itu hanya mengambang, belum memudar. Karena memilih jalur aman maka aku hanya diam saja tanpa sepatah kata.

Papa mungkin begitu sangat menyayangiku, namun ia kurang begitu paham bagaimana cara mendidik anak. Cinta dan kasih sayangnya justru merupakan penjara bagiku, dan ini sudah aku rasakan sekian tahun lamanya jauh sebelum mengenal krisna. Semakin aku di kekang semakin pula aku memberontak, terlebih jika aku memutuskan untuk pergi dari rumah aku sudah mempunyai tujuan. Maka, atas pertimbangan tersebut, aku menghubungi krisna melalui handphone mbak Cantika untuk membantuku kabur dari rumah papa dengan membuat sebuah kesepakatan. Tanpa sepengetahuan siapapun, setiap subuh aku mengemas pakaian sedikit demi sedikit untuk aku taruh di tempat sampah depan rumah pada pukul 05:00 tepat. Selang beberapa menit, krisna datang dan mengambil barang-barang yg telah aku letakkan.

Beberapa hari tepat sebelum meninggalkan rumah, aku mengalami konflik batin. Di satu sisi aku merasa berat hati meninggalkan rumah tersebut, terlebih papa yg selama beberapa tahun ini telah menjadi orang tua angkatku, menjaga dan melindungi aku. Namun disisi lain, aku juga sudah tidak kuat atas perlakuannya yg diktator dan semakin jauh dari arti cinta yg sesungguhnya. Tetapi kemudian aku berkesimpulan bahwa semua yg aku cari ada pada krisna yg menjadi tujuan hidup dan masa depanku.

Pada tanggal 07/09/2011 aku dapat meloloskan diri tanpa sepengetahuan siapapun untuk kemudian memulai hidup baru. Senang tentu saja, tetapi aku juga tidak dapat menafikan kesedihan bila hubunganku dengan papa harus berakhir seperti ini. Walau bagaimanapun papa berjasa banyak hal dalam menopang hidupku yg pada kesempatan ini tidak dapat aku sebutkan secara mendetail. Melalui akun facebookku yg baru beliau sempat berkali membujukku untuk kembali pulang dengan cara mengiming-imingiku cincin berlian, Samsung Galaxi yg ketika itu sangat aku inginkan, pergi berlibur ke Thailand, namun aku menolakknya. Mungkin kedepannya secara finansial aku mengalami kemerosotan, merubah beberapa pola hidup mewah dan lain sebagainya. Tetapi bagiku kebahagiaan tidak dapat di ukur dengan materi, cinta dan kasih sayang yg tumbuh dari hati merupakan kekayaan yg tiada terkira dan merupakan kebahagiaan sejati pada siapa saja yg menerimanya.

Setelah terputusnya hubunganku dengan papa, aku bekerja di sebuah travel untuk menunjang kebutuhan hidup.Namun entah mengapa, dalam seminggu aku hampir dua sampai tiga kali jatuh sakit yg berlangsung hampir selama dua bulan. Selain berobat ke dokter dan pergi ke pengobatan traditional sambil terus memotivasi diri untuk bangkit, krisna menyarankanku untuk lebih mendekatkan diri pada Dewi Kali, sebagai penguasa kegelapan yg mampu melenyapkan kekotoran bathin dan menangkal pengaruh buruk dari luar. Kami juga mengunjungi beberapa pura seperti Jagad Natha dan Uluwatu.

Tanggal 29/01/2012 yg bertepatan dengan hari Penampahan Galungan, krisna mengajakku ikut serta pulang ke kampung halamannya di Singaraja. Memperkenalkanku pada bapak, ibu dan adik-adik serta keluarga besarnya. Tentu saja kehadiranku di sambut dengan hangat, terlebih ibunya yg sangat baik, dan begitu memperhatikanku. Keesokan harinya adalah hari suci Galungan, kami semua menghaturkan bhakti di Sanggah dan Pura Desa. Tidak hanya itu, krisna beserta keluarganya mengajakku nangkil ke Pura Pulaki, dan Pura Melanting. Perbedaan yg paling aku rasakan selama prosesi persembahyangan di pura-pura tersebut dan pada saat aku masih dalam lingkungan gereja adalah, agama merupakan urusan pribadi manusia dan Tuhan dengan berbagai rupa dan nama-Nya. Tidak ada Tuhan eksklusif, tidak ada kotbah maupun anjuran untuk mewartakan agama kepada yg non-hindu, "tidak ada kitab suci" karena semuanya berbicara dengan bahasa hati.

Libur hari raya telah usai, aku dan krisna kembali ke Denpasar untuk menjalani hari sebagaimana biasa. Dan entah mengapa sejak saat itu bahkan hingga cerita ini aku tulis, aku sama sekali tidak pernah jatuh sakit. Sekalipun tidak. Aku sendiri sangat heran, apakah jalan ini merupakan tuntunan karma wasanaku? Dan jika memang iya, lantas mengapa aku terpental begitu jauh ke pulau seberang? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tetap menjadi misteri hingga kini. Melangkah di jalan dharma melalui praktek spiritual ada banyak fenomena yg tidak logis, namun justru disana yg menjadi letak daya tariknya untuk terus melakukan praktek dan kemudian dianalisa. Bukan hanya melafalkan ayat-ayat dalam kitab suci hingga mulut berbusa-busa dan mengeringnya kerongkongan.

Selama di Denpasar krisna tidak pernah menyuruhku untuk sembahyang Tri Sandhya, menurutnya tidak ada yg wajib selain kesadaran dari umat itu sendiri. Yg Ia tekankan sangatlah fleksibel yakni berkarma sesuai dharma. Dan atas dasar itu juga setiap pagi sebelum berangkat ke kantor aku selalu meluangkan waktu untuk menyalakan dupa dan mempersembahkan sebuah canang di Pelinggih yg terletak persis didepan kamarku.

Hingga suatu hari beberapa teman kantorku mengatakan bahwa sesungguhnya aku tidak boleh sembahyang ke pura jika belum sah memeluk agama Hindu, terlebih bersembahyang ke Sanggahnya krisna, karena yg berstana disana bukanlah Leluhurku, jadi sembah sujudku tidak diterima. Aku sedih sekali, dan mengadu pada krisna, menurutnya teman-teman kantorku tersebut orang yg masih awam akan agama jadi jangan di hiraukan. Karena tidak puas atas jawaban yg ia berikan aku online melalui akun facebookku dan posting di Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara yg sebelumnya sudah di invite oleh krisna, mempertanyakan prihal tersebut. Setelah banyak yg comment yg di antaranya adalah pinisepuh group tersebut, sebut saja bapak Nengah Sudana yg mengirim inbox padaku bahwa ia sedang mendiskusikan rencana upacara Sudi Wadani untukku bersama bapak Kantha Adnyana.

Jika memang melangkah di jalan dharma merupakan tujuanku, tentu aku sangat senang dengan usul yg diajukan. Lalu aku merenungi semuanya dengan penuh tanya, apakah aku sudah benar-benar yakin? Tiba-tiba ingatanku tertuju pada apa yg pernah di katakan krisna, bahwa di dalam tubuh Sanathana Dharma terdapat beberapa konsep ketuhanan seperti panteisme dan monoteisme, atau bahkan ateisme. Karena itulah seorang umat di berikan keleluasan untuk memuja-Nya sesuai dengan keinginginan. Karena ingin beragama dengan "benar" dan tidak mau "salah" dalam menentukan pilihan untuk kesekian kalinya aku mulai mencari tau apa saja yg berhubungan dengan agama hindu di google. Sambil sesekali intospeksi diri, mencari tau, dimana letak "kenyamanan dan potensiku" yg sesungguhnya.

Akhirnya melalui studi banding yg aku lakukan sendiri dan juga penjelasan-penjelasan yg aku dapat dari krisna seorang, aku mengambil beberapa kesimpulan yg diantaranya adalah, untuk menjadi seorang kristen yg menjunjung tinggi cinta kasih berarti juga menjadi hindu, tetapi untuk diakui menjadi anak dari yg abadi/Tuhan (amritasya putrah), tidak bisa menjadi kristen. Karena dalam kristen Yesus Kristus merupakan satu-satunya anak Tuhan yg kemudian mengembalakan domba-domba. Menyebut seorang manusia sebagai domba entah dalam arti yg sesungguhnya atau kiasan di dalam hindu justru merupakan penghinaan di dalam hindu. Dan jika kita berbicara tentang konsep monoteisme, tidaklah berarti sama seperti konsep monoteistik lainnya, Tuhan monoteisme dalam hindu tidak angkuh dan bersikukuh dengan sebutan sebuah nama saja, karena di dalam hindu orang-orang bijak menyebut-Nya dengan bayak nama. Dll...

Setelah puas dengan pemahamanku sendiri, aku mengutarakan keinginanku untuk di Sudi Wadani kepada krisna. Walau dia sangat antusias tetapi dalam beberapa kesempatan yg berbeda ia berkali-kali mempertanyakan keseriusanku. Krisna, dan yg lainnya atau siapapun juga boleh tidak percaya, itu haknya dan mereka. Meminjam kalimat yg ia pernah katakan padaku, "seekor singa walau di penggal kepalanya ia tak kan pernah mau makan rumput, begitulah kesetiaan".

Beberapa hari kemudian krisna mendapat sms dari bapak Nyoman Suharta bahwa upacara Sudi Wadani untukku telah di tentukan pada hari minggu 26/02/2012 di pura Besakih. Aku senang sekali karena semua kebutuhan upakara telah di siapkan, sehingga aku tidak di beratkan dengan biaya sepeserpun. FDJHN merupakan sebuah organisasi yg tidak hanya bergerak dalam bidang agama, namun juga kemanusiaan. Keberadaannya tidak hanya sekedar eksis di dunia maya menghabiskan banyak waktu hanya untuk diskusi, tetapi juga memberi kontribusi langsung dalam memajukan umat dari segi tattwa dan upakara seperti memberikan buku, pelinggih, dan semua yg dibutuhkan umat. Uniknya lagi, jika mereka mengadakan upacara Sudi Wadani bukanlah karena merasa menjadi "tangan-tangan Tuhan" yg harus mewartakan agama yg di wahyukan dan kemudian meng-konversi orang yg sudah beragama dalam keadaan bingung. Tetapi umat yg berjalan dengan keyakinan yg menuntut pengakuanlah yg menemukan mereka. Ya... Seperti diriku ini contohnya.

Pada hari yg telah di tentukan dan aku sepakati, pukul 06:00 pagi aku dan krisna menuju kantor sekertariat untuk berkumpul dengan member yg lainnya dan kemudian menuju pura Besakih yg kami tempuh selama satu jam lebih. Sampainya di Besakih, sambil menunggu Ida Pandita mempersiapkan semuanya, aku dan krisna duduk di pinggir sebuah bale, kemudian ada seseorang yg menghampiri, beliau juga merupakan salah satu member FDJHN yg belakangan aku ketahui namanya bapak Arjaya STP. Tiba-tiba saja beliau berkata dengan spontan bahwa aku disenangi oleh Bathara yg melinggih di pura Melanting. Dalam hati aku heran, kami tidak saling kenal dan tidak pernah bertemu sebelumnya mengungkapkan sebuah "kebenaran". Kebenarannya adalah sejak saat aku nangkil ke pura Melanting - Pulaki aku sehat-sehat saja dan tidak sakit-sakitan lagi. Ingin rasanya berbincang lebih banyak dan jelas, tetapi kemudian aku di panggil untuk segera melaksanakan upacara Sudi Wadani.

Semua berlangsung sebagaimana yg telah di rencanakan, upacara Sudi Wadani berjalan lancar. Namun ketika hendak bersembahyang bersama member lainnya yg turut hadir, tiba-tiba hujan turun deras sekali, aku dan krisna sama sekali tidak bergeming meski harus basak kuyup, krisna meyakinkanku dengan berkata "hari ini km mendapat restu yg berlimpah, langitpun memerciki km dengan tirta". Dan setelah itu, aku lantas memohon ijin pada bapak Kantha untuk sembahyang ke Pedharman bersama krisna.

Aku merasa senang juga bahagia, dan istimewa karena "terlahir" di pura Besakih, merasa terhormat karena upacara Sudi Wadaniku di pimpin oleh seorang Ida Pandita Mpu, yg setelah semuanya selesai dengan kemurahan dan kerendahan hatinya beliau bersedia untuk berfoto bersama denganku. Beliau juga sempat memberikanku kartu nama sebagai sebuah isyarat untukku mengunjunginya ke Geria dikemudian hari, tak ada petuah apapaun, beliau hanya mengatakan, "sekarang km adalah anak angkatku". Betapa bahagianya diriku...

Setelah semuanya ini, hari-hariku berjalan seperti biasa, berkarma dan berdoa dijalan dharma. Hubunganku dengan krisna semakin jelas, dan tidak ada kendala yg berarti untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kehidupan spiritualku juga masih terus di berkahi restu seperti yg aku alami beberapa hari yg lalu di pura Jagad Natha saat bulan purnama.

OM KRIM KALYAI NAMAH _/\_

Penulis @Mayshia Angel

Menjawab Mitos umat Hindu di Bali Dengan Posisi Tidur Kepala Tidak Boleh menghadap Selatan dan Barat

Ada suatu pertanyaan yang membuat kita kadang-kadang bingung akan Mitos tersebut terutama bagi umat Hindu yang Muda maupun anak-anak dan ketika balik mempertanyakannya kepada orang tua malah tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan alias Memang Sudah Begitu. Sepatutnya lah sebenarnya kita memberikan penjelasan yang masuk logika dan yang sesuai dgn kaidah kaidah Hindu. Maka dari itu saya berusaha menampilkannya disini sebagai tambahan wawasan bagi generasi Hindu dimana pun berada. Jadi inilah pertanyaan tersebut: 

Mengapa bagi umat Hindu posisi tidur kepala tidak boleh (tdk disarankan) menghadap selatan dan Barat? Sampai saat ini saya tetap mempercayainya.

Pertanyaan diatas itu saya ambil dari suatu tread status forum Hindu yang ada di facebook yang memang merupakan tempat berkumpulnya teman teman dan sodara sodara Hindu dalam membahas suatu permasalahan selain itu sebagai wadah peningkatan wawasan umat Hindu terutama bagi generasi Mudanya.

Jawaban dari pertanyaan tersebut juga saya ambil dari salah satu Koment yang menurut saya sangat tepat dan mendekati dengan konsep Hindu di Bali. ma'af ,saya tidak sebutkan indentitas pemilik koment tsb.inilah salah satu koment tsb :  

Maaf, tiang memberi masukan sedikit tentang pokok pertanyaan teman di atas. Yaitu mslh tdr kepala di timur dan di utara. 
Begini, pada dasarnya, umat hindu sangat mensucikan 9 penjuru arah mata angin. DEWATA NAWA SANGA. Tapi, dalam hal ini, (arah kepala waktu tidur), ada konsep palemahan (tata ruang) yang mengatur dalam hal ini. 
Dalam tata adat di bali, tiap keluarga hindu bali punya tempat pemujaan (sangah/merajan) yang di bangun di sebelah timur (tepatnya, kaje kangin) dari areal pekarangan yg di tempati. 
Dan di bali juga ada konsep (me-hulu gunung). Masyarakat hindu bali menggunakan gunung sebagai arah utara. Nah, untuk lebih mensucikan tempat pemujaan, maka masyarakat hindu di bali mengatur arah kepala untuk tidur dengan sedemikian rupa. Dalam hal ini, kepala ada otaknya, otak sebagai pusat dari semua yang ada pada diri manusia. 
Maka, dengan sendirinya kepala kitalah yg paling dekat dgn tmpat pemujaan. Ini untuk mengingatkan kita untuk selalu dekat, mengingat, dan melaksanakan ajaran hindu. jadi masalah posisi tidur kiat di bali ini bukan AGEM MULE KETO. Dan ada yg lucu disini, ajaran tidur hindu di bali, telah secara tdk langsung membuat penduduk bali mempersatukan diri lewat posisi tidur. 
Di bali utara dan bali selatan jika tidur dgn posisi sama2 kepala di utara, maka ketemunya kepala dgn kepala. Utara di bali selatan, adalah selatan di bali utara....... 

Nah...setelah melihat Koment diatas bagaimanakah menurut anda ? apakah ada tambahan dan sanggahan yang lain? Jika ada silakan berikan Koment anda disini.
Setelah ada masukkan lagi maka kami melakukan Update sebagai berikut:

#Arti posisi kepala saat tidur


Adat Bali dikenal memiliki banyak aturan, yang secara tidak langsung dan tidak sadar mengikat masyarakatnya, mulai dari pribadi perorangan, kelompok sampai aturan dalam membangun daerahnya. satu contoh kecil saja, yaitu sikap saat istirahat malam atau tidur. jangankan sikap tidur, tempat tidur bahkan bangunan yang boleh dijadikan tempat tidurpun diatur. katakan saja untuk ranjang untuk tidur, ada aturannya. secara umum, apapun yang dilakukan oleh manusia diatur, dalam hal ini; tempat istirahat. dalam sastra bali tempat istirahat ada 3, yaitu
  1. Galar; istirahat untuk beberapa saat dengan tidur
  2. Galir; istirahat untuk beberapa menit/pelepas lelah, yaitu dengan duduk dan bersantai
  3. Galur; istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah balinya “mulih ke desa gede/gumi wayah” alias MATI
tempat istirahat tersebut biasanya dibuat dari batang bamboo yang dibagi kecil-kecil memanjang(dalam istilah bali dsb di-recah) sehingga nyama untuk digunakan. perhitunganya tetap dimulai dari “Galar” kemudian “Galir” dan di ikuti dengan “Galur”. dan apabila tempat istirahat tersebut dianggap kurang lebar maka hitungannya dilanjutkan sampai ditemukan posisi yang cocok dengan keinginan.

nah, apa yang terjadi bila aturan tersebut dilanggar?

untuk yang melanggar aturan tersebut, secara adat atau hukum social tidak ada hukumannya. tetapi secara “Niskala” akan berdampak pada kehidupan pemakai tempat istirahat tersebut. mulai dari sakit hingga kematian. khusus untuk tempat tidur, memiliki aturan tambahan yaitu; apabila tempat tersebut sudah dianggap selesai dibuat dan sudah pernah digunakan selama 3 hari, maka tempat tesebut dianggap sudah hidup seperti halnya bangunan yang telah diupacarai. bila ada orang yang berani memotong / merubahnya kemudian setelah itu digunakan sebagai tempat tidur lagi, maka yang memotong / merubah serta yang menggunakannya akan mengalami gangguan dalam kehidupannya. aturan ini sudah baku, karena sudah banyak yang merasakan, sehingga Adat Bali tidak mengaturnya secara tertulis.

kembali ke Posisi Tidur, seperti halnya umat lain yang memiliki “kiblat”, orang bali juga memiliki aturan tersebut, dan ini sudah diatur melalui aturan yang ditulis dalam kidung “Nitisastra VII, 1-2”. adapun kupasan dari nitisastra tersebut :
Perhatikan tempat letak kapalamu, waktu tidur beginilah pelajaran dari buku-buku. jika kepalamu ditimur, akan panjang umurmu. jika diutara, engkau mendapatkan kejayaan. jika letak kepalamu dibarat, akan mati rasa cinta padamu, engkau akan dibenci para sahabatmu. dan jika membujur ke selatan, akan pendek umurmu, dan menyebabkan rasa dukacita. - Nitisastra VII, 1-2.
Sumber:http://cakepane.blogspot.com/2010/07/arti-posisi-kepala-saat-tidur.html


Cukup sekian semoga hal ini bisa membantu generasi kita menemukan Kebangkitan Hindu dalam dirinya, sehingga bisa menjadi seorang Hindu yang sejati.