Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan
INILAH HISTORY PALING PENTING>>>>>Siapakah Pembawa Ajaran Hindu Ke Dunia?<<<<< BANTU SHARE

INILAH HISTORY PALING PENTING>>>>>Siapakah Pembawa Ajaran Hindu Ke Dunia?<<<<< BANTU SHARE

Sejauh kita perhatikan dalam sejarah, Hindu Dharma tidak memiliki satu pendiri seperti agama-agama lain. Pustaka-pustaka suci kuno India (Veda) menyatakan bahwa dharma ini sesungguhnya didirikan atau berasal langsung dari Tuhan Sendiri (dharman tu saksadbhagavad pranitam). Dari sudut pandang kitab suci, ‘agama’ atau dharma ini termanifestasi bersamaan dengan setiap kali penciptaan oleh kehendak Tuhan. Setelah penciptaan siklik dari alam semesta yang menjadi tempat kita hidup saat ini, Tuhan Tertinggi yang disebut sebagai Narayana dalam Veda, mengajarkan dharma kepada Brahma, insan pertama di alam semesta. Brahma kemudian mengajarkannya kembali kepada putra-putranya, salah satunya adalah Narada, yang kemudian menyampaikannya lagi kepada Vyasa Mahamuni. Dengan cara inilah dharma yang purba ini diturunkan melalui sebuah rangkaian garis perguruan yang bermula langsung dari Tuhan melalui jutaan tahun yang tak terhitung lamanya.

Dengan demikian agama yang bersumber dari Veda ini dikenal sebagai sanatana-dharma, atau agama yang kekal, karena ia melampaui segala konsep ruang dan waktu buatan manusia. Kita tidak boleh bingung antara sanatana dharma dengan keyakinan agama lain yang bersifat sektarian, karena sanatana dharma ini sungguh-sungguh merupakan fungsi yang asli dari sangjivatma, sebagaimana sifat cair tidaklah dapat dipisahkan dari air.Nama atau kata modern Hinduisme atau agama Hindu, merupakan istilah yang baru sajadikembangkan pemakaiannya kira-kira 700 tahun yang lalu oleh penjajah Muslim di India. Adasebuah sungai yang disebut Shindu, yang salah disebut oleh para penjajah ini sebagai Hindu.Semua orang yang tinggal di seberang sungai itu, tak peduli apapun keyakinannya, disebut oleh mereka orang-orang Hindu. Ajaran-ajaran suci dan nilai-nilai yang dianut oleh orang-orang ‘Hindu’ ini secara mudah juga mereka sebut agama Hindu, untuk membedakannya dari keyakinan yang mereka anut. Sehingga tentu saja salah apabila kita menyimpulkan bahwa ada kemungkinan kita dapat melacak sejarah awal agama kuno India berdasarkan penggunaan kata ini dalam sejarah. Kita harus mengetahui bahwa dalam kitab-kitab suci ‘Hindu’ yang purba ini tak dapat ditemukan satu kata Hindu pun. Namun kita menemukan kata sanatana-dharma(dharma yang kekal), vaidika-dharma (dharma dari Veda), bhagavata-dharma (dharma yang berasal dari Tuhan), dan sebagainya. Dharma ini senantiasa segar dan abadi. Artinya dia tidak pernah ketinggalan jaman dan ada untuk selamanya. Dijelaskan dalam sastra suci Veda bahwa kapanpun dharma ini melemahatau bahkan lenyap, maka Tuhan Sendiri akan turun membangunnya kembali. Salah satuny adalah ketika Beliau turun sebagai Sri Krishna 5000 tahun yang lalu. Beliau menegakkan kembali dharma dengan memusnahkan berbagai kekuatan jahat dan menyabdakan kembali Bhagavad-gita di tengah medan perang Kuruksetra. “Yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srijamy aham,” Kapanpun prinsip-prinsip dharma mengalami kemunduran dan adharma merajalela, pada saat itu Aku (Tuhan) sendiri turun untuk menegakkannya kembali” (Bhagavad Gita 4.7). Dalam sejarah Veda, ada tak terhitung banyaknya orang-orang suci yang datang dan menyebarluaskan ajaran-ajaran rohani yang terkandung dalam Pustaka Suci Veda, tetapi tak satupun dapat disebut sebagai pendiri agama. Masing-masing adalah murid (sishya) dari seorang guru dan masing-masing juga menyampaikan pengetahuan yang sama sebagaimana diajarkan oleh gurunya terdahulu. Inilah sistem Veda, tidak ada pendiri, karena setiap orang pertama-tama dan utamanya adalah seorang murid. Dharma tidak bisa dibuat manusia, diawali oleh manusia, atau bahkan oleh makhluk-makhluk lain yang lebih dari manusia. Dharma dijelaskan sebagai ajaran dan petunjuk langsung dari Tuhan, “dharman tu saksad bhagavad pranitam.” Dharma ini tidak bermula dari makhluk fana apapun (apauruseya).

Bagaimana kita bisa yakin bahwa ajaran Hindu yang bersumber pada Veda inisungguh-sungguh berasal dari Tuhan? Mudah saja, pertama tidak ada yang bisa membuktikan kapan Veda bermula. Veda sanatana, kekal abadi, anadi dan ananta, tiada awal dan akhirnya,karena Veda merupakan sabda-brahma yang memancar (nigama) langsung dari Tuhan YangMaha Esa, yang juga adalah sanatana, anadi, dan ananta. Kedua, Veda merupakanapauruseya, tidak berasal dari makhluk fana. Tidak satu agamapun yang bisa mengatakanajaran atau kitab sucinya apauruseya, semua agama lain terbukti memiliki nabi yang mengawaliberdirinya agama itu. Ketiga, hanya dalam Veda Tuhan Sendiri berjanji untuk menjaga dharma ini secara langsung. Beliau Sendiri bersedia menyisihkan keagungan-Nya (paratva) untuk turunke dunia menyelamatkan Veda-dharma. Beliau sungguh-sungguh menunjukkan betapa besarkasih sayang-Nya (vatsalyatva) bagi pengikut Veda. Untuk mereka Beliau menyediakan Diri-Nya untuk mudah didekati (saulabhya) dan dapat bekerja sama dengan mereka menjaga dharma (sausilya).

Dalam agama lain, ajaran seperti ini tidak ada. Secara logika (anumana) kita bisamenyimpulkan bahwa tuhan yang dipuja di sana bukanlah Tuhan Sejati, karena tuhan itu tidak mampu turun ke dunia. Apapun alasannya, apabila ada yang tidak bisa dilakukan oleh suatu Ada/Being (vastu), maka pastilah itu bukan Tuhan. Bagaimana mungkin ada tuhan yang tidak mampu melakukan sesuatu? Kemudian andaikata yang dipuja itu adalah Tuhan Sejati yang disebutkan juga dalam Veda, maka Tuhan menganggap selain Vedadharma tidak pantas atau tidak cukup layak mendapatkan perhatian yang besar. Buktinya Beliau tidak bersedia secara langsung turun ke dunia menjaga dharma non-vedik itu.
Hanya dari tiga kenyataan ini saja kita sudah mampu melihat bahwa Veda dharma ini memang sungguh-sungguh berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya lebih mudah membuktikankeabsahan Veda dibandingkan ajaran-ajaran agama bernabi. Siapa bisa menjamin kalau manusia-manusia yang disebut nabi, yang lahir tidak lebih dari beberapa ribu tahun yang lalu itu, memang benar menerima wahyu dari Tuhan? Mereka hanya membawa suatu ajaran yang berasal entah dari mana dan bersifat eksternal (external unknown source). Mereka memaksa suatu masyarakat berubah di bawah ancaman dan hukuman. 

Berbeda dengan para Maharishi. Para Maharishi menyatakan bahwa mereka hanyalah menyampaikan dharma yang kekal, dharma yang terkandung dalam diri sejati kita. Mereka hanyalah berusaha mengembalikan apa yang sesungguhnya memang milik kita, menyatu dengan jati diri kita yang asli. Para Maharishi tidak datang untuk sekedar menyuruh kita tunduk kepada Tuhan dan diri mereka sebagai utusan-Nya. Beliau-beliau ini hanya menyatakan diri sebagai orang yang lebih dahulu menginsafi Brahman Tertinggi, kemudian mengajak kita untuk turut mengalami sendiri potensi tak terbatas kita dalam berhubungan dengan Brahman. Ajarannya merupakan cara kita melatih diri menginsafi dharma sejati kita. Inilah yang menjadi dasar ajaran rohani yang kini disebut Hindu itu.  


Sambil mencoba mengisi content blog dan usaha untuk belajar untuk menjadi seorang narablogger(bahasa orang yang senang ngeblog versi dagdigdug.com) biar ke tingkat advance, dengan melakukan survey atau lebih tepatnya mengamalkan ilmu follow the competitor, sampailah ke satu situs yang membuat jari-jari ini berhenti ngeklik dan membaca dengan intense. Karena apa? di salah satu situs yang sangat luar biasa saya menemukan satu artikel yang menguatkan atau melengkapi postingan awal saya(Wedangga=Weda Sruti?...). Situs ini layak mendapat 4 jempol(sampai jempol kaki), saya rekomendasikan dan saya jadikan inspirasi/patokan/referensi dalam konteks pengkajian wedangga baik secara keilmuan weda maupun keilmuan ilmiah. Situs yang beralamat di http://ngarayana.web.ugm.ac.id/ ini dikelola oleh admin dengan nickname ngarayana, yang sangat lugas dan cerdas, mengulas keilmuan weda yang dikomparasikan dengan keilmuan ilmiah, sungguh ruarrrr biasa, salut!
Kembali ke judul post, pada postigan tanggal Rabu, 12 Agustus 2009, Ngarayana menulis postingan judul "Poster kronologi pewahyuan Veda", saat membacanya hati saya langsung berkata "nah ini dia yang saya cari", langsung saya minta ijin untuk mengutipnya, membaginya disini dan mencoba mekomparasinya dengan wahyu wedangga.



Pewahyuan Weda



Dalam artikel tersebut, dijelaskan bagaimana proses kitab suci Weda diturunkan (Sruti) kepada 7 Sapta Maha Rsi yang akhirnya disusun menjadi kitab (Smerti) oleh Bagawan Abiyasa/Vyasa. Bahkan sampai-sampai menyertakan posternya segala (speechless saya bro, 4 thumbs up).
Menurut Kitab Weda yang konon telah diturunkan 1,9 Milyar tahun yang lalu (buset) dengan cara lisan(Sruti), akhirnya pada tahun 3.138 sm dikodifikasi, dikumpulkan dan ditulis ulang oleh Maha Rsi Vyasa. 

Proses pewahyuan/penurunan weda ini dapat dilihat di kitab yajurveda 30.7:

Yajurveda 30.7
Tasmad Yajnat sarvahuta
Rcah samani jajnire
Chandami jajnire tasmad
Yajus tasmad ajayata
Artinya;
“Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadanya umat manusia mempersembahkan berbagai yadnya dan daripadanya muncul Rgveda dan Sama veda. Daripadanya muncul yajurveda dan Samaveda“



Dalam proses pewahyuan Weda tersebut, ada beberapa cara yang dikenal, diantaranya adalah :
1. Svaranada, gema yang diterima oleh para Rsi yang kemudian menjadi sadba Tuhan yang kemudian disampaikan kepada murid-muridnya.
2. Upanisad, pikiran para Rsi dimasuki oleh sabda Brahman dan berfungsi sebagai penghubung dalam kondisi pendidikan “Param-para”
3. Darsana atau Darsanam, dimana para Rsi berhadapan secara rohani dalam suatu situasi gaib yang bersifat spiritual.
4. Avatara, yakni pewahyuan dengan menerima langsung dari perwujudan Tuhan yang menjelma langsung ke dunia, seperti Arjuna menerima ajaran Bhagavad Gita dari Sri Krsna dalam medan perang Kurusetra
Sebagaimana dijelaskan dalam Brahma Samhita, Catur Veda diterima pertama kali dari Tuhan Yang Maha Esa oleh mahluk hidup yang pertama, yaitu Dewa Brahma. Dewa Brahma menurunkan ajaran Veda kepada sapta rsi (7 Rsi) yaitu;
1. Rsi Grtsamada, yang banyak disebut dalam hubungannya dengan turunya wahyu-wahyu pada Rgveda Mandala 2.
2. Rsi Visvamitra, yang dikaitkan dengan seluruh Mandala 3 Rgveda.
3. Rsi Vamadeva, yang dikaitkan dengan Mandala 4 Rgveda
4. Rsi Atri, yang berhubungan dengan Mandala 5 Rgveda. Dalam keluarga Rsi Atri disebut bahwa terdapat 36 Rsi penerima wahyu.
5. Rsi Bharadvaja, yang banyak dikaitkan dengan turunnya Mandala 6 Rgveda, kecuali beberapa bagian yang berhubungan dengan nama Sahotra dan Sarahotra.
6. Rsi Vasistha, yang banyak berhubungan dengan Mandala 7 Rgveda. Dalam kisah Mahabrata, rsi ini juga sering disamakan dengan Rsi Visvamitra.
7. Rsi Kanva, yang merupakan nama pribadi dan nama keluarga yang banyak dikaitkan dengan mandala 8 Rgveda. Adapun mandala 9 dan 10 adalah kumpulan wahyu yang diterima oleh beberapa Rsi yang lain.



Penyampaian Veda kepada seluruh umat manusia berlangsung melalui sistem parampara dan sebagian besar hanya disampaikan secara lisan dari guru ke murid. Hal ini berlangsung selama jutaan tahun. Sampai akhirnya pada akhir jaman Dvaparayuga atau pada awal jaman Kaliyuga, Maha Rsi Vyasa (Veda Vyasa) yang diyakini sebagai Avatara Tuhan melakukan kodifikasi, pengumpulan dan penulisan ulang Veda. Hal ini beliau lakukan karena beliau sadar bahwa pada jaman Kaliyuga ingatan manusia akan merosot tajam sehingga untuk membantu pengajaran Veda selanjutnya diperlukan teks-teks Veda yang ditulis dalam kulit kayu, batu dan sejenisnya (ngarayana,2009, Poster kronologi pewahyuan weda,

Misteri Pewahyuan Wedangga
Nah wedangga atau diartikan "Weda Ana Ring Angga" adalah satu tingkatan spiritual dimana orang yang telah sampai di tingkat tersebut, akan bisa membahasakan bahasa roh dalam bentuk mantra atau bahasa, berkomunikasi dengan roh-roh suci, mempunyai kemampuan spiritual khusus dan dapat mendapat wahyu berupa pengetahuan spiritual.
Wedangga ini identik dengan kemampuan berbahasa (bahkan bisa berbicara arab, china, yahudi, latin/kristen dll, padahal orangnya gak pernah mempelajari bahasa tersebut) atau mengucapkan mantra-mantra tertentu sesuai maksud penggunaannya (sembahyang, pengobatan dan jaga diri) dan gerak-gerak (mudra) yang sangat kentara sebelum melakukan kegiatan terutama persembahyangan. Pewahyuan wedangga biasanya berlangsung dimana oarang tersebut masih dalam keadaan sadar ketika menyampaikan wahyu tersebut. Ini berbeda dengan praktek spiritual balian/mangku/jero dasaran (shamanic) yang umum di Bali. Kalau di Bali masih dipercaya satu orang dengan tingkatan tertentu yang dianggap mampu untuk menyampaikan pesan-pesan dari roh-roh. Biasanya menyampaikan pesan dari pitara/leluhur atau ida sesuhunan(roh yang menjadi sungsungannya dalam praktek spiritual) berupa pesan kehidupan, kesembuhan/sebab-sebab penyakit/malapetaka dan pengetahuan tentang kehidupan spiritual. Untuk Di Bali praktek-praktek pewahyuan dapat dibagi menjadi beberapa bagian:

1. Kerauhan
dimana mediator tidak sadarkan diri (trance) dalam menyampaikan pesannya, bisa melaksanakan kegiatan yang diluar nalar seperti: mendadak bisa menari, menusuk dirinya, bertingkah seperti binatang tertentu, di suatu kondisi tertentu berbahasa yang diluar kemampuannya (jawa kuno dll). Jika dilihat dari kaca spiritual, tampaknya mediator tersebut dipinjam raganya oleh roh-roh dengan energi yang lebih besar sehingga kadang-kadang terlihat mediator menjadi lemas setelah proses kerauhan tersebut dan pesannya kadang-kadang gak jelas (kadang dalam keadaan menangis atau marah-marah gak karuan.

2. Jero Dasaran/Mangku Tapakan
Ini biasanya dilaksanakan oleh seseorang yang mendapat pengakuan sosial dari masyarakat atau bisa dikatakan telah menjadi profesi di tingkat spiritual. Orang tersebut hanya bisa mengarahkan roh-roh mana yang akan dimasukan (katanya) sesuai dengan keinginan klien dengan perantaraan sarana sesajen tertentu(beras, air,dll). Biasanya pesannya dapat didengar dengan jelas dan terkontrol, namun masih bersifat kerauhan dimana mediator tidak sadarkan diri atau menggunan sarana dupa sebagai pertanda waktu mediator untuk menyadarkan diri, ketika dupa telah habis dan menyentuh tangannya (ya iyalah panas bok).

3. Titah/sabda
Ini biasanya diterima dimana kesadaran mediator masih dikontrol, biasanya mediator dalam prosesi spiritual tertentu (sembahyang, meditasi, bertapa). hanya didengar oleh mediator sendiri tidak bisa dibahasakan secara langsung bersifat pribadi.

4. Tutur
Ini berbeda dengan kerauhan dimana mediator melakukannya secara sadar. Namun pada waktu bicara, apa yang dibicarakan bukan berasal dari kehendak mediator. Biasanya berisi ajaran-ajaran atau ilmu pengetahuan spiritual untuk berkehidupan. Bahasanya dapat dimengerti, biasanya menggunakan bahasa Bali atau bahkan bahasa indonesia.Tentu hal ini sangat sulit dan hanya dapat dilakukan di tingkat spiritual tertentu, dimana keikhlasan dan pikiran mediator telah dapat dikendalikan, sehingga tidak bercampur dengan tutur tersebut. Ini biasanya dapat ditemukan setiap mengadakan persembahyangan bersama di pesraman(Purnama Tilem atau Tirtayathra). Tentu yang mampu sebagai mediator "tutur" tingkat wedangga-nya telah mumpuni dan telah mengetahui mantra kunci-kunci tertentu, agar pesan yang datang tersebut betul-betul dari beliau bukan dari roh-roh lain.
Jika dikaitkan dengan pewahyuan weda di atas nampak jelas beberapa persamaan dalam konteks pewahyuan terutama dalam Svaranada (gema yang diterima oleh para Rsi yang kemudian menjadi sadba Tuhan yang kemudian disampaikan kepada murid-muridnya). Namun tetap kami ingatkan Weda bersifat universal sedangkan wedangga untuk diri sendiri. Tutur hanya salah satu dari banyaknya ajaran agama untuk menuntun kita dalam kehidupan. Semoga bermanfaat.

MOKSA ADALAH PEMBEBASAN

MOKSA ADALAH PEMBEBASAN

“Debu engkau, dan ke dalam debu engkau akan kembali.” Demikian ucapan seorang pendeta dalam suatu upacara penguburan, yang kita saksiakan dalam film-film cowboy buatan Amerika.

Kalimat pendek ini bukan sekedar karangan penulis skenario film, tetapi diambil dari Perjanjian Lama (Torah) yang mengambarkan awal dan akhir ciptaan alam semesta beserta isinya. Kalimat ini diucapkan oleh Elohim, Tuhan Torah kepada Adam, setelah ia berdosa. Kitab kejadian mengungkapkan pemahaman dasar dari Bible mengenai manusia.

Dalam keyakinan Hindu, manusia tidak berasal dari debu. Ia adalah Atman, yang berasal dari Brahman, yang ditubuhkan dan karena itu disebut jiwa. Manusia disusun dari unsure prakerti (materi) dan purusa (jiwa). Konsep penciptaan dalam agama Hindu disebut emanasi. Segala yang ada berasal dari Tuhan.

Karena berasal dari Tuhan, maka ketika meninggalkan dunia ini. Ia akan kembali kepada Tuhan, asalnya. Seperti analogi sungai, semuanya mengalir ke samudra, bersatu dengannya, hilang bentuk dan nama. Keadaan ini disebut Moksa.

Jadi apakah Moksa? Moksa artinya pembebasan (dari reinkarnasi). Moksa dibahas secara luas dalam sistem filsafat Hindu.

Manusia pada esensinya adalah Atman, jiwa murni, tetapi telah agak melupakannya dan telah mengidentifikasikan dirinya sendiri dengan gabungan badan-pikiran (body-mind complex). Sebagai hasilnya ia secara terus menerus menjalani kelahiran kembali, lingkaran lahir-mati-lahir kembali dan demikian seterusnya. Apapun yang dialami oleh manusia, adalah akibat dari identifikasi manusia dengan badan dan pikiran, dan konsekuensi reinkarnasi disebabkan oleh karma.

Lingkaran kelahiran kembali ini disebut ‘samsara’, dapat diakhiri oleh realisasi dari atman. Ini dapat dicapai dengan menghancurkan ajnana atau avidya(kebodohan) melalui jnana(pengetahuan). Ketika ini telah dilaksanakan, Moksa diperoleh.

Moksa ditempatkan sebagai tujuan akhir dari Purusaartha, tujuan tertinggi dari kehidupan.

Kata lain untuk Moksa adalah mukti, kaivalya (Jaina) dan nirvana (Buddha).

Bila upacara kematian atau kremasi dalam Hindu dirumuskan dalam formula kalimat di awal, ia akan berbunyi: “Kamu adalah Itu,kepada Itu kamu akan kembali!”

Manusia ada di dunia bukan karena dosa akibat melanggar perintah Tuhan. Tidak pula kembali ke asalnya, karena melanggar perintah Tuhan (kiamat).

Bila konsep manusia dalam Hindu dapat diringkas, maka ia akan berbunyi:
“Dari kebahagiaan  semua ada (makhluk dan alam) ini datang, oleh kebahagiaan semua mereka hidup, dan ke dalam kebahagiaan semua mereka kembali. ” (Tattirya Upanisad 3, 1-6)

Senjata Trisula Weda ke-1



Senjata Trisula Weda
Ratu Adil + 939
(bagian ke-1)



A. Prabu Jayabaya dan ramalan. 

Sehubungan dengan akuratnya ramalan Prabu Jayabaya, Beliau adalah Raja Kediri Jawa Timur memerintah pada tahun 1135-1157, Spiritualis dan Pujangga yang menulis ramalan masa depan Kehidupan di Pulau Jawa khususnya dan kehidupan di Dunia yang terkenal dengan ramalan Jayabaya, bait terakhir kini banyak dibicarakan yaitu akan datangnya Ratu Adil ya Satrio Piningit yang bersenjatakan Trisula Weda, hal ini membuat Penulis tertarik. Dari ketertarikan itu Penulis berusaha memecahkan apa yang terkandung dalam ramalan bait terakhir ramalan Jayabaya dengan jalan diantaranya adalah pencarian periode pertama dengan cara usaha Spiritual dan pemecahan Logika. Pencarian Satrio Piningit siapa sebenarnya dan dimana keberadaannya merupakan target utama, Wahyu apa yang diterima dan pengkajian bait terakhir ramalan Jayabaya juga wajib untuk Penulis lakukan.

B. Proses jalannya pencarian. 

1. Pencarian yang pertama. 

Dibawah ini merupakan hasil usaha pencarian yang pertama dengan usaha Spiritual (Meditasi) mohon petunjuk pada Tuhan. Bagian pertama ini merupakan petikan dari Artikel Satrio Piningit.
  1. Satrio Piningit bukan Imam Mahdi hal ini perbedaan waktu dan tempat, Satrio piningit akan turun di tanah Jawa, Imam Mahdi akan turun di Timur Tengah. Misi sama memperbaiki moral dan kehidupan Manusia.
  2. Satrio Piningit merupakan seorang Manusia yang menerima amanat untuk memperbaiki moral dan tatanan hidup Manusia, Satrio Piningit menerima delapan Wahyu, enam wahyu untuk eksistensi dirinya sebagai Satrio piningit enam wahyu ini tidak diajarkan, sedangkan dua wahyu untuk diajarkan, yaitu tentang kebenaran dan ilmu kebijaksanaan.
  3. Goro-goro bukan keributan massal, sebenarnya kata simbolik...harus kembali dilihat kata-kata aslinya (bahasa Jawa goro = dalam arti bahasa Indonesia bohong), kalau goro-goro berarti kebohongan. Ini sudah berjalan dari jaman Orde Baru sampai sekarang, keadaan semakin bertambah. Yang termasuk dalam ini yaitu menggerogoti kekayaan negara (korupsi, pertambangan dll).
  4. Satrio kita tengok pada jaman dulu, Ksatria merupakan Kasta terhormat, Sebagai seorang Satrio adalah mempunyai moral yang sangat tinggi dan mulia, sebagai seorang Satrio ( Satria) adalah seorang yang teguh dan kuat memegang Sumpah dan Janji. Satrio ( kasta Ksatria ) ini adalah, Tentara, Polisi dan Pejabat. Bagaimana para Satrio sekarang ? Anda dapat menilai sendiri dari masing-masing Ksatria.
  5. Satrio Piningit bermata satu, yaitu Mata Hati, merupakan indra yang ke tujuh setelah indra keenam dan merupakan mata yang keempat, dengan Mata Hati ini Satrio piningit bisa mengetahui kebenaran Tuhan, mana yang benar dan mana yang salah, sehingga kebenaran dapat dilihat, dan sebagai Satrio piningit mampu bertindak adil dan bijaksana.

    Kemampuan inilah akan dipergunakan untuk mendidik Manusia. Mata Hati Manusia sekarang sudah buta, karena tidak menghiraukan mata hatinya, berakibat tertutup oleh napsu dan ambisi, hingga Mata Hati-nya buta, kehidupan-nya serakah dan ambisius, tidak dapat membedakan benar dan salah, mana yang halal dan mana yang haram, tindakan-nya banyak melakukan pelanggaran.
  6. Satrio piningit akan muncul jika sudah terjadi goro-goro, perjuangan Satrio piningit ini secara tersembunyi tidak diketahui oleh siapapun keberadaan-nya dan apa yang diajarkaan juga tidak diketahui ajarannya karena halus caranya, ajaran Satrio piningit tidak diketahui oleh siapapun sebelum goro-goro berakhir, Satrio piningit baru diketahui jika moral dan kehidupan bangsa Indonesia sudah baik.
  7. Dari ajaran Satrio Piningit inilah kemudian menyebar ajarannya didalam hati para Satrio dan rakyat, hingga menjadi negara Mercusuar Dunia, karena para Satrio sudah bisa melihat Kebenaran dan Kebijaksanaan. Tidak korupsi, mawas diri dan hati-hati.
  8. Mahluk halus (makhluk gaib), Satrio piningit dapat menguasai dan memerintahkan makhluk halus, untuk membantunya jika diperlukan.
  9. Apakah berjuang sendirian, Satrio Piningit tidak berjuang sendirian ada Satrio-satrio lain yang membantu perjuangannya walau tidak saling kenal, dalam tingkatan spiritual saling terhubung dan bagaikan jala (jaring), antara satu dengan yang lain membentuk daya kekuatan gaib super.
2. Pencarian yang kedua.

Cara usaha Penulis lakukan periode yang ke dua dengan usaha pemecahan Spiritual, pengkajian Logika dan juga berinteraksi dengan para komentator pada blog : http://satriopiningitmuncul.wordpress.com Dengan para komentator dan artikel Satriopiningi Telah Mmuncul Penulis nilai kebenarannya yang terkandung nilainya nol yaitu artikel sesat, ada komentator yang bernama Muhammad Yaman Al Bhugury yang menerima kebenarannya benar-benar berbeda pendapat dengan Penulis. Yaman memberikan pengkajian logika pada artikel "Satrio Piningit" artikel Penulis pada blog : http://ufo-spiritual.blogspot.com/2011/06/satrio-piningit.html dari hasil pengkajian M.Yaman Albuqury inilah Penulis mendapat momentum dan bersemangat untuk mengkaji ulang artikel itu sehingga Trisula Weda dapat Penulis temukan yaitu dari poin-2, dari dua wahyu Kebenaran dan Kebijaksanaan yang akan diajarkan ternyata terlahirlah Keadilan yang sinkron dengan bait 173.

Dari perjalanan pencarian itu Senjata Trisula Weda yang dibawah oleh Ratu Adil dapat Penulis temukan, dari pengkajian bait terakhir ramalan Jayabaya ternyata yang dimaksud Senjata Trisula Weda adalah ajaran Budi Pekerti Adiluhung dan juga ajaran Ketuhan yang Maha Esa. Dalam bait terakhir ramalan Jayabaya ternyata tersimpan rahasia ajaran Budi Pekerti Adiluhung dan ajaran Ketuhanan yang Esa yang harus dipecahkan, diurai dan disusun kembali supaya dapat digunakan lagi pada jaman sekarang ini yaitu jaman gila yang serba terbalik untuk merubah budi pekerti yang rusak dan membawa kembali ke Budi Pekerti Adiluhung dan ber-Tuhan Esa. 

Dari pentingnya Budi Pekerti Adiluhung ini Penulis berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menyusun kembali rahasia yang tersimpan rapi selama lebih dari 800 tahun dalam bait terakhir ramalan Jayabaya untuk disusun kembali supaya dapat digunakan untuk Pedoman hidup Manusia yang berbudi Pekerti Adiluhung supaya hidup selaras dengan Alam Raya. Selain itu Penulis juga merasakan sentuhan kedamaian yang pernah ada pada masa lalu untuk supaya dikumandangkan ke seluruh penjuru Dunia untuk hidup damai, sejahterah dan selaras dengan Alam Raya.

Dari hasil pengkajian bait terakhir ramalan Jayabaya sebelumnya Trisula Weda yang Penulis temukan sinkron dengan bait 173, Penulis tahu Trisula Weda belum lengkap dan belum terwujudkan hingga Penulis mengkaji lagi bait-bait yang berhubungan dengan Trisula Weda dan bertambahlah kelengkapannya yang ternyata merupakan teka-teki rahasia Adiluhung yang harus dipecahkan, diurai, disusun, harus dirakit dan diwujudkan dalam bentuk gambar supaya mudah dimengerti dan dipahami oleh Masyarakat luas untuk belajar Trisula Weda yang merupakan ajaran Budi Pekerti Adiluhung dan ajaran Ketuhanan Esa. Dalam perwujudan gambar senjata Trisula, senjata Trisula merupakan senjata berpasangan yaitu :
  1. Trisula Laki-laki kanan (Raja)
  2. Trisula Perempuan kiri (Ratu)
Simbol berpasangan ini berhubungan dengan simbol Lingga (Laki-laki} dan Yoni (Perempuan) yang terdapat pada peninggalan Candi-candi, lambang Lingga dan Yoni merupakan simbol kehidupan dan jagad raya berbentuk alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan, bentuk biasanya disamarkan dalam bentuk lain terutama alat kelamin Perempuan. Simbol Lingga Yoni ini Penulis ketahui unik dan lengkap berada di Pulau Bali yaitu Gua Gajah (Gua buatan) di kota Gianyar-Bali. Gua sebagai Yoni diukir pada tebing batu lubangnya berbentuk huruf T lengkap dengan bagian-bagian Miss V yang terlihat dari depan bentuk samaran (dalam bentuk lain) ukirannya, masuk bagian dalam pertama merupakan perwujudan liang V, masuk lagi kedalam tempat kandungan, dan berikutnya bercabang T tempat reproduksi telur (ovum) pada ujung kanan dan ujung kiri. Bentuk Gua sesuai dengan gambar kandungan pada gambar ilmu Kedokteran modern, jika belok kearah kanan pada ujung Gua terdapat 3 tugu alat kelamin laki-laki (Palus} dan jika belok kearah kiri pada ujung Gua terdapat patung Gajah Gina yang kita kenal Ganesha (Dewa berkepala Gajah}, disini terdapat wadah tempat Air Suci yang digunakan untuk Upacara-upacara Agama.

Langkah awal untuk memecahkan rahasia Trisula Weda ini, Penulis melakukan penyusunan Trisula Weda dalam bentuk gambar Senjata Trisula yaitu Trisula merupakan bentuk senjata bermata tiga berwarna kuning Emas dan terdiri dari dua senjata satu pasang, dua gambar senjata Trisula yaitu :
  1. Senjata Trisula Laki-laki (Raja) arah mata ketajaman tiga mata menghadap kearah atas semuanya, pegangan atau gagang tengah pada pangkalnya berhias empat warna dalam segi lima.
  2. Senjata Trisula Perempuan (Ratu) kedua ketajaman mata tengah dan ketajaman mata kanan menghadap ke arah atas dan ketajaman mata tepi sebelah kiri ketajaman-nya menghadap ke arah bawah dan pegangan atau gagang pada pangkalnya berhias empat warna dalam lingkaran.
C. Penyusunan gambar. 

Hasil perwujudan gambar lengkap Senjata Trisula itu merupakan perwujudan dari bait terakhir ramalan Jayabaya yang tidak terpecahkan selama lebih dari 800 tahun, kini Penulis dapat memecahkan Sandinya dan mewujudkan Trisula Weda secara lengkap yaitu diantaranya dengan perwujudan gambar sesuai dengan arahan petunjuk bentuk pada bait terakhir ramalan Jayabaya. Senjata Trisula berwarna kuning Emas adalah merupakan lambang Kemuliaan, Keabadian dan Spiritual tinggi dan empat warna putih, kuning, merah, hitam di bagian pangkal Trisula adalah ajaran kebatinan Jawa lambang dari Sedulur papat limo Pancer, (bhs Jawa : Sedulur papat limo Pancer = bhs indonesia : Empat saudara lima Diriku), berada pada lima Penjuru mata angin yaitu :
  1. Kakang Kawah berwarna Putih berada pada arah Timur, Kakang kawah atau air ketuban disebut Kakang karena sebelum Jabang Bayi lahir air ketuban pecah dan keluar lebih dulu.
  2. Adi Ari-Ari berwarna Kuning berada pada arah Barat, setelah Jabang Bayi lahir keluarlah Ari-ari atau Plasenta.
  3. Getih berwarna Merah yaitu berada pada arah Selatan, Setelah adi Ari-ari keluar keluarlah darah berwarna merah.
  4. Pusar berwarna Hitam berada pada arah Utara, setelah tali pusar dipotong dari Ari-ari potongan tali pusar ini berubah menjadi warna hitam.
  5. Pancer (bhs Idonesia : Diriku) berada di tengah-tengah arah yaitu Jabang Bayi adalah Diri Kita yang sebenarnya pada Trisula Weda dilambangkan senjata Trisula berwarna kuning Emas.
Pancer (Diriku) yaitu diri Kita sebenarnya harus melakukan tindak laku di kehidupan berpedoman pada Trisula Weda yang Adiluhung dibawah oleh Ratu Adil yang akan diajarkan kepada Manusia. Inilah yang dimaksud oleh Jayabaya senjata pemberian Dewa dan Sabda Beliau memerintahkan supaya mencari Orang tersebut untuk belajar dan supaya ajaran Trisula Weda dijadikan sebagai pedoman hidup yang merupakan ajaran Budi Pekerti Adiluhung dan juga ajaran Ketuhanan Yang Esa.

D. Ulasan bagan gambar Senjata Trisula Weda : 
  1. Benar, terletak pada ujung mata sebelah kiri.
  2. Bijaksana, terletak pada ujung mata tengah.
  3. Adil, terletak pada ujung mata sebelah kanan.
  4. Jujur, terletak pada gagang atau pegangan Senjata Trisula.
  5. Triniji suci, ("landhepe triniji suci" bhs. Jawa). Arti bahasa Indonesia ialah Tajamnya tiga menjadi satu nan Suci, dalam gambar menyatukan ketiga bagian gambar Senjata Trisula Weda, kiri tengah dan kanan.
  6. Empat warna pada pangkal Senjata Trisula Weda adalah empat arah mata angin pada pangkal Senjata Trisula, Raja berbentuk segi lima, Ratu berbentuk lingkaran. Warna putih, kuning, merah, hitam merupakan perwujudan hubungan Manusia secara Horizontal yaitu hubungan atau komunikasi dengan sesama Manusia juga hubungan dengan makhluk lain dan alam raya.
  7. Jejeg, (arti bhs. Indonesia ialah tegak lurus (Vertikal)), posisi Trisula Weda Vertikal menghadap ke atas merupakan hubungan dengan Tuhan Maha Esa, yaitu yang dimaksud Manusia supaya selalu ingat pada Tuhan Maha Esa.
Dengan pedoman Senjata Trisula Weda ini para Satrio Piningit dan Ratu Adil (Master Satrio Piningit) dapat memutar polaritas Logika Manusia pada posisi yang benar dan dapat ditempatkan pada garis edar yang benar, sehingga semua Agama dan kepercayaan tidak saling klaim kalau dirinya paling benar, kebenaran Hakiki dapat diterima.

Link :
ufo-spiritual.blogspot.com/2011/06/satrio-piningit

E. Bait-bait ramalan Jayabaya yang selaras dengan artikel, juga merupakan arahan bentuk, warna dan tata letak gambar Senjata Trisula Weda : 

164.
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
ngerahake jin setan
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur
kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong

putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti
menguasai seluruh ajaran (ngelmu)
memotong tanah Jawa dua kali
mengerahkan jin dan setan
seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda
tajamnya tritunggal nan suci
benar, tegak lurus, jujur
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong

168.
mula den upadinen sinatriya iku
wus tan abapa, tan bibi, lola
awus aputus weda Jawa
mung angandelake trisula
landheping trisula pucuk
gegawe pati utawa utang nyawa
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan
sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda

oleh sebab itu carilah satria itu
sudah tidak berbapak, tidak berbibi, tak bersanak saudara
sudah lulus weda Jawa
hanya berpedoman trisula
ujung trisulanya sangat tajam
membawa maut atau utang nyawa
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain
yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan

170.
ing ngarsa Begawan
dudu pandhita sinebut pandhita
dudu dewa sinebut dewa
kaya dene manungsa
dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh
gawang-gawang terang ndrandhang

di hadapan Begawan
bukan pendeta disebut pendeta
bukan dewa disebut dewa
namun manusia biasa
bukan kekuatan lain diterangkan jelas
bayang-bayang menjadi terang benderang

171.
aja gumun, aja ngungun
hiya iku putrane Bethara Indra
kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan
tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh
hiya siji iki kang bisa paring pituduh
marang jarwane jangka kalaningsun
tan kena den apusi
marga bisa manjing jroning ati
ana manungso kaiden ketemu
uga ana jalma sing durung mangsane
aja sirik aja gela
iku dudu wektunira
nganggo simbol ratu tanpa makutha
mula sing menangi enggala den leluri
aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu
beja-bejane anak putu

jangan heran, jangan bingung
itulah putranya Batara Indra
yang sulung dan masih kuasa mengusir setan
turunnya air brajamusti pecah memercik
hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk
tentang arti dan makna ramalan saya
tidak bisa ditipu
karena dapat masuk ke dalam hati
ada manusia yang bisa bertemu
tapi ada manusia yang belum saatnya
jangan iri dan kecewa
itu bukan waktu anda
memakai lambang ratu tanpa mahkota
sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati,
jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh
keberuntungan ada di anak cucu

172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada
ing zaman kalabendu Jawa
aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa
cures ludhes saka braja jelma kumara
aja-aja kleru pandhita samusana
larinen pandhita asenjata trisula wedha
iku hiya pinaringaning dewa

inilah jalan bagi yang ingat dan waspada
pada zaman kalabendu Jawa
jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa
yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga
jangan keliru mencari dewa
carilah dewa bersenjata trisula wedha
itulah pemberian dewa

173.
nglurug tanpa bala
yen menang tan ngasorake liyan
para kawula padha suka-suka
marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula
angagem trisula wedha
para pandhita hiya padha muja
hiya iku momongane kaki Sabdopalon
sing wis adu wirang nanging kondhang
genaha kacetha kanthi njingglang
nora ana wong ngresula kurang
hiya iku tandane kalabendu wis minger
centi wektu jejering kalamukti
andayani indering jagad raya
padha asung bhekti

menyerang tanpa pasukan
bila menang tak menghina yang lain
rakyat bersuka ria
karena keadilan Yang Kuasa telah tiba
raja menyembah rakyat
bersenjatakan trisula wedha
para pendeta juga pada memuja
itulah asuhannya Sabdopalon
yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur
segalanya tampak terang benderang
tak ada yang mengeluh kekurangan
itulah tanda zaman kalabendu telah usai
berganti zaman penuh kemuliaan
memperkokoh tatanan jagad raya
semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi

Sumber :
http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/bait-terakhir-ramalan-jayabaya/



F. Pesan Penulis. :

Untuk Pembaca, Penulis mempersembahkan hasil karya ini untuk masyarakat luas, Penulis mengijinkan untuk menyebarkan artikel dan gambar Senjata Trisula Weda dengan catatan sesuai tata cara penulisan hak cipta, supaya dicantumkan sumber artikel yaitu nama blog : http://ufo-spiritual.blogspot.com/2013/01/senjata-trisula-weda-ratu-adil-939.html dan nama Penulis : Moch Nachli. Sekian terimakasih atas kunjungan Anda dan semoga Anda sehat dan sejahterah selalu.

G. Bereksistensi di blog lain. 


Dibawah ini merupakan copy dari blog http://satriopiningitmuncul.wordpress.com dimana tempat Penulis berdiskusi dan berinteraksi dengan para Komentator dan dibawah ini merupakan tulisan dimana Penulis bereksistensi dan mendapat sambutan baik dari Admin blog dan sambutan baik dari para Komentator dan perlu diketahui tulisan komentator pada artikel Satrio Piningit Telah Muncul pada blog ini banyak yang dihapus oleh Admin blog.




Moch Nachli pada 5 Desember 2012 pada 6:33 AM berkata:

Bereksistensi

Saya mohon ijin kepada teman-teman, admin Blog dan pengunjung Blog satriopiningitmuncul.wordpress juga pemilik Server wordpress, ijinkan Saya bereksistensi di blog ini, tidak ada maksud jelek dan tidak akan merugikan siapapun, Saya bereksistensi ini karena Saya merasa Bahagia dan Bersemangat menemukan apa yang Saya cari yaitu Trisula Weda yang merupakan rahasia pada ramalan Jayabaya dapat Saya temukan demikian keyakinan Saya.

Prabu Jayabaya adalah satu-satunya Raja yang Saya kagumi yang pernah hidup di tanah Jawa ini, dengan ramalan Jayabaya dapat Saya ketahui, ramalannya Beliau banyak yang terbukti benar dan akurat. Ramalan Satrio Piningit yang dikenal oleh banyak orang pada ramalan Jayabaya merupakan hal yang menarik, pada bait-bait terakhirnya ramalan Jayabaya dimana si Satrio Piningit itu bersenjatakan Trisula Weda, tapi tidak disebutkan dengan jelas apa dan bagaimana sebenarnya Senjata Trisula Weda itu, hanya sekilas saja yaitu bener, jejek, jujur pada bait ke-164.

Dari rasa keingintahuan dan rasa penasaran, maka Saya berusaha untuk mendapatkan rahasia itu, lama dalam pencarian itu dan dapat Saya temukan dalam Bulan Suro yang merupakan Bulan Keramat untuk Orang Jawa, dengan dasar inilah Saya meyakini kebenarannya, untuk alasan yang ke dua adalah sinkron dengan bait terakhir pada ramalan Jayabaya yaitu pada bait ke 173, Saya tidak meragukan kebenarannya dan Saya yakin.

Lain Saya lain Muhammad Yaman Al Bhugury benar-benar berbeda. Ceritanya begini Saya berusaha untuk memecahkan logika dari usaha spiritual yang Saya dapatkan, Saya merasa belum terpecahkan semua hanya sebagian saja yang dapat Saya pecahkan, logika Saya mencapai titik nol dalam hal ini, maka Saya mencari tandingan pikiran Saya yaitu harus dapat menemukan orang yang benar-benar berbeda dengan diri Saya.

Saat itu Trisula Weda belum Saya temukan, ini merupakan pencarian yang pelik dan rumit dalam perjalan pencarian Jati diri Satrio Piningit bagi Saya, juga merupakan pencarian yang pelik apa dan bagaimana Trisula Weda itu, Saya belum tahu apa sebenarnya dan bagaimana Trisula Weda itu, di Blog ini Satrio Piningit Muncul Saya pendatang baru dan ternyata teman-teman semua juga merupakan Pencari Kebenaran beda sedikit dengan Saya ialah Pecinta Kebenaran, pengunjung di blog ini dapat diajak berdiskusi walau berbeda-beda keyakinan dan jati dirinya. Perbedaan keyakinan tidak perlu didebatkan tapi perlu didiskusikan dengan argument, inilah yang Saya tangkap dari teman-teman semua terutama Saya tangkap jelas dari Muhammad Yaman Al Bhugury.

Disini Blog Satrio Piningit Muncul merupakan Orang-orang yang kebanyakan berbeda cara memandang dan menilainya artikel di atas dengan Saya, Muhammad Yaman Al Bhugury merupakan orang yang aktif untuk menjaga keyakinannya, siapa yang mencela dan menghina artikel diatas maka akan diserangnya, dan ternyata juga berpandangan luas dalam menyikapi sesuatu, disamping itu juga mempunyai kecerdasan yang cemerlang. Dengan kecerdasannya itu Muhammad Yaman Al Bhugury menanggapi dan memecahkan dengan logikanya 9 point artikel pada blog Saya dengan hasil yang mengagumkan sehingga membuat pikiran Saya jadi fres yaitu Saya bisa mencermati dan meneliti 9 point itu lebih tajam dan terfokus.

Muhammad Yaman Al Bhugury telah membantu Saya untuk menemukan apa yang Saya cari dan Saya yakini, Trisula weda dapat Saya temukan berada pada dua wahyu yang akan diajarkan yaitu Kebenaran dan Ilmu Kebijaksanaan, jika keduanya Kita pakai sebagai Pedoman dalam suatu hal atau urusan maka dari hasil keduanya ini terlahirlah Keadilan jadilah sekarang berjumlah 3, inilah yang Saya yakini Trisula Weda yang dimaksud pada ramalan Prabu Jayabaya dan sinkron dengan bait ke 173 ramalan Jayabaya dari 8 wahyu yang diterima 2 diantaranya dengan hukum sebab akibat terlahirlah Keadilan, Saya melihat jam tepat pada pukul 02:07 WIB pada tgl. 01 Desember 2012. Terimakasih Saya kepada Saudara Muhammad Yaman Al Bhugury anda membantu Saya untuk menemukan apa yang Saya Cari dan Anda membuat Saya Bahagia dan Bersemangat, demikian juga mudah-mudahan Anda juga Bahagia dan Bersemangat seperti yang Saya rasakan karena Anda bisa menolong Saya.

Trisula Weda sudah Saya temukan di bulan Suro (bulan Jawa) dan dengan ini mohon kesaksian teman-teman dan semua pengunjung Blog Satriopiningitmuncul WordPress, Saya menetapkan bulan Suro Saya tetapkan sebagai bulan Keramat untuk Saya, ketetapan ini ada 2 sebab yaitu pertama Saya menemukan Trisula Weda dan yang kedua Saya adalah orang Jawa. Juga Saya menetapkan bulan Suci Ramadhan sebagai bulan Keramat, ada 3 hal penyebabnya yaitu pertama karena Saya merupakan seorang Muslim, yang kedua dan yang ketiga mohon maaf Saya rahasiakan karena Sangat pribadi dan rahasia ini teman-teman Saya mohon mengerti dan suatu saat Teman-teman dengan sendirinya dapat mengetahui apa yang Saya rahasiakan itu.

Selain itu Saya juga ingin membuat angka kenangan simbolik untuk mengenang ini dan juga mohon disaksikan teman-teman dan pengunjung blog disini angka 939 merupakan angka pilihan Saya untuk mengingat Trisula Weda, angka 939 Saya tetapkan sebagai simbol Trisula Weda yaitu berasal dari 9 point dan 8 wahyu dari bagian dua wahyu berakibat lahirnya Keadilan jadilah 9 dan rangkaian angka 939 merupakan simbol Trisula Weda bagi Saya, siapa saja boleh memakai angka 939 tidak ada hak paten dan bebas, asal Anda suka arti dan maknanya yaitu terdiri dari : Kebenaran, Ilmu Kebijaksanaan dan Keadilan yang merupakan Trisula Weda. Jika Anda memakai simbol angka ini Saya anggap Anda juga Pecinta Kebenaran.

Saya yakin Satrio Piningit yang keluar dari pingitannya yang nantinya dikenal sebagai Ratu Adil dengan senjatanya Trisula Weda dapat dengan cepat merubah tatanan kehidupan Manusia, karena yang dirubah adalah polaritas logika Manusia ditempatkan pada posisi yang benar dan garis edar yang benar, maka Manusia dengan ini dapat mengetahui kebenaran yang sejati, hingga semua Agama dan Kepercayaan dapat tertata dengan benar tidak akan mengklaim paling benar dan tidak menyalahkan yang lain. Juga kehidupan akan Aman, Sejahterah dan mematuhi hukum yang ada, Jujur, hidup Damai dan Bahagia.

Ratu adil yang keluar dan dikenal sebenarnya Adalah Master dari Para Satrio Piningit dan semuanya merupakan orang-orang terpilih yang dipilih oleh Tuhan Yang Maha Esa, mereka merupakan satu tim dan bekerja pada tingkat Spiritual, walau tidak saling kenal pada dunia nyata mereka bekerja dalam tingkat Spiritual dan terhubung sebagai jaringan Ratu Adil. Seperti Kita ini walau tidak saling kenal dapat terhubung di dunia maya yaitu pada jaringan Internet.

Pencarian Jati diri Satrio Piningit terus Kita lanjutkan, Saya optimis dari perbedaan keyakinan mengidentifikasi inilah nanti Insya Alloh dapat Kita temukan sosok Jati diri Satrio Piningit ya Ratu Adil itu, Kita juga merupakan Satu Tim !

Wassalam dan Terimakasih untuk Anda semuanya.

Surabaya, 5 Desember 2012
Pecinta Kebenaran
Moch. Nachli

Ref :
http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/bait-terakhir-ramalan-jayabaya/

H. Kesimpulan : 

Bait terakhir ramalan Jayabaya ternyata merupakan Sandi Adiluhung kini dapat Penulis pecahkan, ternyata Trisula Weda mengandung isi ajaran Budi pekerti Adiluhung dan ajaran Ketuhanan Yang Esa untuk pedoman hidup Manusia. Para Satrio Piningit pendukung Ratu Adil bekerja pada tingkat Spiritual pada jaringan Ratu Adil untuk mewujudkan isi ajaran Trisula Weda pada kehidupan nyata.

Ratu Adil nantinya dapat merubah polaritas logika Manusia dan menempatkan posisi polaritas pada tempatnya dan pada garis edar yang benar, sehingga semua Agama dan kepercayaan yaitu semua Manusia akan dapat melihat kebenaran yang Hakiki, hingga tidak saling klaim kalau dirinya adalah yang benar. Dari perubahan polaritas logika Manusia pada posisi yang benar itu nanti dunia akan damai hidup rukun, makmur dan sentosa.

Para Satrio Piningit pendukung Ratu Adil mereka bekerja juga pada dunia nyata tapi tetap misteri. Ratu Adil yang dikenal oleh umum dan dikenal seluruh dunia berasal dari Satrio Piningit yang keluar adalah merupakan Master dari Para Satrio Piningit.
I. Link : 
J. Daftar Pustaka : 
K. Catatan. 
Edit terakhir, 22 Januari 2013, penambahan petikan dari Artikel Satrio Piningit, pada proses jalannya Pencarian bagian Pertama yaitu bagian A pada, 1. Pencarian yang pertama.

Diambil tgl. 5 Mei 2013 dari :
http://ufo-spiritual.blogspot.com/2013/01/senjata-trisula-weda-ratu-adil-939.html

Akibat Pindah Agama Menurut HINDU

Om Swastiastu...

Pindah agama kadang juga disebabkan kurang peduli orang tua terhadap anak-anaknya terutama yang kurang mengetahui dan memahami tentang HINDU. Ini banyak terjadi di nusantara ini terutama bagi anak gadis yang di ambil non Hindu, tapi tidak menutup kemungkinan juga dari laki-laki Hindu berpindah ke lain hati dengan alasan berbagai macam yang mungkin kalian sudah tahu sendiri. 
Prinsip predana ikut purusa disalah artikan. Jika anak perempuan harus ikut suami walau suami beragama bukan Hindu. Padahal yang dimaksud adat bahwa istri ikut suami adalah bukan agamanya melainkan mengikuti adat yang masih berdasarkan Hindu.


Untuk itu saya akan membahas di dalam blog ini akibat berpindah agama, yang mungkin dapat bisa memberikan pencerahan dalam hati kalian wahai ' generasi Muda Hindu Nusantara ' . Banyak sekali kejadian kejadian saya temukan setelah berpindah agama malah menjelek-jelek kan agamanya yang terdahulu dengan mengganggap keyakinannya yang sekarang "Lebih Benar" tanpa tau akibat dari perpindahannya itu.

Hukuman atau Akibat bagi yang meninggalkan Hindu Sesuai Weda antara lain :
1. Setelah Ajal Tiba Atamannya Tidak akan pernah mencapai alam kebahagiaan, kesempurnaan, dan tujuan tertinggi yaitu moksa.
Kata-kata ini tersurat dalam Bhagavadgita Xvi.23 "Ia yang meninggalkan ajaran-ajaran kitab Suci Veda, ada dibawah pengaruh kama (napsu) tidak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi".
Mantram ini memberikan tuntunan agar kita jangan meninggalkan kitab suci veda hanya karena menuruti nafsu (kama) maka ybs tidak akan selamat.
Bisa jadi orang yang meninggalkan Hindu di dunia ini dia bahagia, tetapi dapat dipastikan kelak Atmannya akan terseret ke lembah Neraka Dalam Bhagavadgita XVI.19 disebutkan juga : " Mereka yang kejam membenci Aku, adalah manusia yang paling Hina, yang Aku campakkan tak henti-hentinya penjahat itu ke dalam kandungan raksasa".
Kalau kita renungkan mantram ini menekankan orang yang pindah agama atau keluar dari agama Hindu sama artinya membenci Brahman, sehingga kelak atmannya patut dicampakkan lembah neraka. Itu akibat perbuatannya sendiri seperti tersirat dalam Atharwa veda II.12.6 " Perbuatan jahat orang yang berdosa membuat kehidupannya tersiksa"
2. Setelah Ajal Tiba Atmannya akan tenggelam ke lembah Neraka.
Dalam Manawa Dharma sastra VI.35 " Kalau ia telah membayar 3 macam hutangnya (Kepada Brahman, leluhur dan orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikiran untuk mencapai kebebasan terakhir. Ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutannya akan tenggelam ke bawah.
Karena dia sudah meninggalkan agama Hindu berarti dia tidak bisa lagi membayar 3 macam hutangnya (tri Rna) , karena mereka tdk mengakui adanya Tri Rna ini. Sering kita melihat orang yang pindah agama saat orang tuanya meninggal dia memakai pakaian adat, dia melakukan sembahyang Hindu saat orang tuanya di aben, padahal dia sudah bukan hindu.
Keluarga mereka menerima seolah-olah tidak ada beban, demikian pula masyarakat tidak perduli melihat hal tersebut. Kalau dikeluarganya mengerti Hindu tentunya yang pindah agama tersebut tidak akan diperbolehkan menyembah orang tuanya, karena akan menghambat jalannya Atman orang tua menuju alam Leluhur dan alam para Dewa.
3. Setelah Ajal Tiba Atmanya tidak akan ketemu jalan menuju Swargaloka.
Dalam Bhagavad gita III.35 " Lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tiada sempurna daripada dharmanya orang lain yang dilakukan dengan baik, lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada dalam tugas orang lain".
Kita sebenarnya telah beragama hindu sejak Atman, Roh dan Jiwa diceptakan Brahman, bukan saat kita dilahirkan, karena kita percaya dengan reinkarnasi / samsara punarbhawa. Berarti sejak Brahman menciptakan kita selama itu pulalah kita telah beragama Hindu. Bisa jadi kita atman telah berusia ribuan tahun, berarti karma wasana sudah melekat juga sejak ribuan tahun.
Kalau seseorang beragama Hindu sejak Atman diciptakan Brahman, lalu pindah ke agama lain, maka karma wasana di agama lain tidak ada artinya, karena dikumpulkan dalam waktu singkat kendati pun dilakukan dengan disiplin dan ketat.



Sejak dalam kandungan kita telah beragama Hindu. Nenek moyang kita juga beragama Hindu. Bahkan seluruh umat manusia pada awalnya beragama Hindu seperti disebut dalam bhagawad Gita berikut :

Sribhagawan uwaca
Imam wiwaswaite yogam, proktawan aham awyayam, wiwaswan manawe praha, manur ikswakawe’ brawit. Ewam paramparapraptam, imam rajarsayo widuh, sa kalena ‘ha mahata, yogo nastah parantapa. Sa ewa ‘yam maya te’dya, yogah proktah puratanah, bhakto ‘si me sakha cati, rahasyam hy etad uttamam (BG.1-3)

Artinya;
Sri Bhagawan bersabda
Ajaran abadi ini (weda) Aku turunkan kepada WIWASWAN, wiwaswan mengajarkan kepada MANU dan Manu menerangkan kepada IKSWAKU. Demikian diteruskan turun temurun, para Raja resi mengetahuinya, ajaran ini lenyap di dunia bersamaan dengan berlalunya masa yang amat panjang. Yoga yang tua itu pulalah (weda) yang kuajarkan kepadamu sekarang sebab engkau adalah pengikut dan kawan-Ku, sesungguhnya ini sangat rahasia.

MANU (yang menerima ajaran kitab Weda pertama kali) adalah leluhur umat manusia sehingga seluruh keturunannya disebut MANUSIA. Kitab Weda yang diajarkan kepada beliau-beliau inilah yang kembali diajarkan kepada Umat manusia saat ini.

Seperti dikatakan sendiri oleh beliau dalam Bagawad Gita. XV.15 berikut :”  Weda ntakrid wedawid ewa ca ‘ham/ Akulah pencipta weda dan Aku yang mengetahui isi weda. Kitab Weda disebut juga  sastrawiddhi atau sastra brahman karena berasal dari Hyang Widdhi/Brahman/Tuhan YME.

Mereka yang mencela dan menyimpangkan kitab Weda, dan tidak mengikuti ajaran Weda adalah orang-orang bodoh  yang tidak tahu jalan kebenaran dan kehilangan kesempatan untuk mengetahui kebenaran abadi (BG.III.32)

Sedangkan mereka yang selalu mengikuti ajaran Weda dan selalu melaksanakan perintah-perintah kitab Weda dengan penuh keyakinan dan bebas dari kepentingan duniawi akan dibebaskan dari perputaran karma (dibebaskan dari Hukum Karma dan Reinkarnasi) seperti sabda Sri Krisna dalam Bagawad Gita.III.31 berikut :
Ye me matam idam nityam anustisthanti manawah, sraddhawanto ‘nasuyanto mucyante te’pi karmabhih.
Mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku dengan penuh keyakinan dan bebas dari keterikatan duniawi, mereka juga akan dibebaskan dari belengu karma. (bebas dari kelahiran kembali/Reinkarnasi).

Ananyas cintayanto mam, ye janah paryupasate, tesam nityabhiyuktanam, yogaksemam wahamy aham.(BG.IX.22)
Mereka yang selalu menuja-Ku, merenungkan Aku selalu, kepada mereka Ku bawakan segala apa yang mereka tidak punya dan akan Ku lindungi segala apa yang mereka telah miliki.

Setelah Sodara baca tentang Pemahaman di atas, Sejatinya kita semestinya bisa bertahan dalam mengendalikan diri baik Perempuan maupun Laki-laki karena dengan Berpindah agama akan menyebabkan dan mengakibatkan sesuai dgn KARMA kita di dunia ini. 

BEKERJA Menurut HINDU

I GN Nitya Santhiarsa

“Bekerjalah demi kewajibanmu, bukan demi hasil perbuatan itu, jangan sekali pahala menjadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri tidak bekerja”-Bhagawadgita II.47

“Bekerjalah seperti apa yang telah ditentukan, sebab bekerja lebih baik daripada tidak bekerja, dan bahkan tubuh pun tidak berhasil terpelihara jika tanpa bekerja”-Bhagawadgita III.8

“Seperti orang bodoh yang bekerja karena keterikatan atas kerja mereka, demikianlah orang yang pandai bekerja tanpa kepentingan pribadi (tanpa pamrih) dan bekerja untuk kesejahteraan manusia dan memelihara ketertiban sosial “Bhagawadgita III-25

”Mereka mempersembahkan semua kerjanya kepada Brahman dan, bekerja tanpa motif keinginan apa-apa, mereka tak terjamah oleh dosa, laksana daun teratai tak basah oleh air” Bhagawadgita V-10

Keempat sloka suci di atas menjadi prinsip dasar ajaran Karma Yoga atau bekerja menurut Hindu, yakni bagaimana umat Hindu menjalani hidup yang semestinya dan memenuhi segala kebutuhan hidupnya agar hidup di dunia secara sejahtera (jagadhita) dan menikmati kebahagiaan. Kegiatan pokok manusia selama hidupnya adalah beristirahat (termasuk tidur) dan bekerja (bekerja dalam hal ini meliputi berbagai aktifitas seperti beribadah, belajar, dan berusaha), dimana pada umumnya sepertiga waktu untuk istirahat dan duapertiganya untuk bekerja. 


Bagi umat Hindu, bekerja adalah kewajiban (swadharma), bekerja adalah suatu keharusan, baik itu karena memang perintah dari Tuhan maupun karena tuntutan untuk kelangsungan hidup di dunia. Jika ada yang menghindari bekerja padahal dia sanggup misalnya menjadi pengangguran atau hidup bermalas-malasan berarti dia berkhianat kepada perintah Tuhan dan menelantarkan potensi dirinya, sehingga menjadi manusia yang membebani lingkungannya. Lebih parahnya lagi, hidup menganggur dan malas merupakan pintu gerbang menuju kejahatan, kenapa demikian? Itu karena pikiran orang yang menganggur mudah dirasuki oleh kekuatan sadripu dan saptatimira sehingga tidak mampu lagi mengendalikan hawa nafsu serta mudah tergoda melakukan kejahatan.

Lebih jelas lagi, sesuai dengan keempat sloka di atas, bekerja yang diwajibkan adalah: pertama, bekerja untuk Tuhan, bekerja adalah ibadah, dan bekerja adalah suatu persembahan kepada Tuhan; kedua, bekerja tanpa pamrih atau bekerja tanpa kepentingan pribadi; dan ketiga, bekerja tidak terikat pada hasil kerja dan pahala; kemudian, keempat, bekerja untuk kesejahteraan manusia dan memelihara ketertiban sosial. Jadi ada empat macam prinsip bekerja yang diwajibkan dalam ajaran Hindu, dimana empat prinsip ini merupakan satu kesatuan, tidak dapat dipisahkan.

Mari kita bahas satu persatu, pertama, bekerja untuk Tuhan, atau bekerja sebagai persembahan kepada Tuhan. Yang dimaksud dengan ini adalah bekerja sungguh-sungguh dengan sebaik-baiknya dan dengan seluruh kemampuan seperti halnya kerja seorang maestro menghasilkan karya masterpiece atau monumental, karena Tuhan adalah Maha Baik yang hanya menerima persembahan yang baik dan benar. Bekerja adalah bagian dari beribadah, seperti sembahyang, bekerja adalah kewajiban setiap manusia, bahkan bekerja adalah upaya memenuhi panggilan Tuhan dan menjalankan perintah dan kehendak-Nya. Meskipun sibuk dan fokus pada pekerjaan namun tidak pernah lupa kepada Tuhan, seperti ditunjukkan dengan sebelum dan sesudah bekerja selalu ingat mengucapkan doa permohonan dan puji syukur.

Bekerja tanpa pamrih, bekerja seperti ini sama seperti di atas, yaitu sebagai konskuensi kerja merupakan bentuk persembahan kepada Tuhan, seperti halnya melakukan yajna maka bekerja harus didasarkan niat yang tulus ikhlas, tanpa pamrih, tidak merasa terpaksa, namun karena memang senang melakukannya, sesuai dengan keahlian dan kemampuan, serta menyadari manfaat pekerjaannya baik bagi dirinya maupun orang lain. Bekerja tanpa kepentingan pribadi maksudnya bekerja bukan karena dorongan hawa nafsu dan egoisme semata namun untuk menjaga martabat atau harga diri serta untuk memperoleh eksistensi diri karena dibutuhkan oleh orang banyak.

Bekerja tanpa terikat pahala, hal ini juga kosekuensi dari kerja sebagai persembahan kepada Tuhan, maka kita sadar bahwa Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Kasih, Beliau pasti membalas perbuatan baik dengan pahala baik yang berlimpah, dan membalas perbuatan jahat dengan hukuman yang setimpal, mekanisme ini sudah merupakan kepastian dimana mekanisme ini disebut dengan hukum karmapala. Sadar dan meyakini tentang hal ini, maka setiap orang tidak usah terlalu sibuk memikirkan atau berhitung pahala sebagai hasil bekerja, misalnya selalu berpikir untung rugi dalam melakukan perbuatan baik, dalam berbisnis. Model berpikir ini tepat, namun kurang tepat jika diterapkan dalam relasi sosial dan kemanusiaan. Setiap manusia diharapkan menggunakan logika, rasa dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan suatu urusan.

Selanjutnya, bekerja untuk kesejahteraan semua (sarvodaya menurut versi Gandhi), di atas sudah disebutkan bekerja bukan untuk kepentingan pribadi, jadi buat kepentingan siapa? Jawabannya jelas, bekerja untuk kepentingan semua, kepentingan bersama, kepentingan umum, kepentingan rakyat, kepentingan kemanusiaan dan tentunya kepentingan Dharma. Mengapa demikian? Itu karena keadilan, ketertiban dan kedamaian sangat lekat dengan kebersamaan, kesetaraan, keseluruhan, dan kemanusiaan, dimana keadilan, ketertiban dan kedamaian adalah kondisi idaman setiap orang dan kesejahteraan dan kebahagiaan hanya dapat terwujud dimana keadilan, ketertiban dan kedamaian tercipta terlebih dulu. Inilah hubungan bekerja tanpa kepentingan pribadi dan bekerja untuk kesejahtraan semua. Kepentingan pribadi tidak selalu sejalan dengan kepentingan semua, jadi kepentingan pribadi bisa jadi suatu saat merusak upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan.

Umat Hindu di Bali terutama yang menjalankan Karma Marga Yoga sekarang ini mengalami persoalan dilematis akibat perubahan pola masyarakat, dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri, yaitu terkait dengan persoalan manajemen waktu dan manajemen keuangan. Pada masyarakat yang agraris, umumnya waktu kerja seragam mengikuti pola kerja atau musim, teratur dan porsinya lebih kecil dibandingkan waktu istirahat. Kita lihat waktu kerja kaum petani, mereka bekerja di siang hari, waktu kerja teratur berulang dengan pola yang sama serta fleksibel penerapannya, rata-rata mereka bekerja sekitar 8-10 jam perhari. Jadi hanya sepertiga waktu harian dan sisanya adalah waktu untuk istirahat yang dapat digunakan untuk beribadah, kegiatan sosial dan urusan keluarga. Sedangkan pada masyarakat industri, waktu kerja lebih ketat dan tepat waktu, waktu kerja lebih bervariasi bisa siang bisa malam, bahkan waktu libur pun menjadi waktu kerja, serta waktu kerja per hari meningkat tajam menjadi dua pertiga bagian dan sisanya untuk istirahat. Jadi porsinya terbalik, waktu kerja porsinya lebih besar dari waktu istirahat.

Kebudayaan Bali berkembang karena waktu luang yang cukup tersedia dalam pola masyarakat agraris, dan ketika memasuki era industri terjadi guncangan (shock) pada tradisi atau kebiasaan orang Bali dalam bekerja maupun dalam beribadah. Selama ini ada kesan di kalangan orang non Bali bahwa di Bali itu banyak libur, karena orang Bali mengikuti dua sistem kalender sekaligus yaitu kalender nasional dan kalender Bali. Kalender nasional memiliki waktu libur demikian kalender Bali memiliki waktu libur sehingga jumlah waktu libur di Bali lebih banyak dibandingkan waktu libur nasional. Belum lagi permohonan ijin tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan yajna dan ada undangan menghadiri karya yajna. Untuk meluruskan pandangan miring ini, maka orang Bali harus segera mengamalkan ajaran Karma Yoga di atas, karena ajaran ini sangat adaptif baik dengan pola masyarakat agraris maupun masyarakat industri. Kata kuncinya adalah bekerja (sesuai ajaran karma yoga) adalah beribadah. Ini mampu menghilangkan dualisme yang bertentangan antara bekerja dan beribadah. Selama ini kebanyakan orang Bali memisahkan antara kepentingan kerja dan kepentingan beribadah, sehingga alokasi waktupun dibuat berbeda, padahal bisa disinergikan menjadi satu kesatuan.

Untuk masalah ritual yajna, berusahalah mengatur waktu keduanya, mungkin sulit mengatur waktu kerja, sehingga aturlah waktu upacara yajna agar dilaksanakan di luar jam kerja dengan berpatokan pada padewasan (hari baik) yang diyakini. Demikian juga pelaksanaannya diusahakan singkat dan padat asalkan sesuai dengan tatwa, susila dan tradisi yang ada. Jadi berusahalah seminimal mungkin minta ijin tidak bekerja berkaitan dengan ritual yajna.

Kemudian tentang manajemen uang, biaya hidup makin lama makin mahal, sedangkan uang makin sulit didapatkan, maka persaingan semakin meningkat dan banyak orang akhirnya menjadi kecanduan kerja. Di samping itu menyebabkan banyak orang bersikap pragmatis, bekerja demi uang atau ujung-ujungnya duit. Jarang ada orang yang mau kerja gotong royong, kerja sosial atau ngayah , semua diukur dengan uang, semua bantuan ada upahnya, lebih parahnya makin banyak orang yang tidak peduli bagaimana cara mendapatkan uang yang halal, tidak peduli lagi sumber uang darimana, apakah dari perbuatan yang baik atau dari hasil kejahatan, yang penting dapat uang banyak! Kemudian, uang yang diperoleh ternyata cukup banyak dibelanjakan untuk gaya hidup konsumtif, pamer kemewahan dan bahkan untuk kegiatan negatif seperti mabuk-mabukan, prostitusi dan konsumsi narkoba. Fenomena ini adalah cikal bakal rusaknya moral masyarakat secara luas dan masiv, sukar sekali memperbaiki kondisi masyarakat yang seperti ini! Untuk mengatasi hal ini carilah pekerjaaan yang halal, hendaknya uang dikelola dengan bijak, hiduplah sederhana dan hemat sekaligus penuh kasih dan dermawan, sehingga harta milik terjaga dan berkembang dengan baik. Om, Namo Siva Budha ya namah swaha!
(I GN Nitya Santhiarsa, Ketua Forum Peduli Dharma, staf dosen Universitas Udayana).

Mantram dan Sloka Ke Esaan Tuhan menurut Hindu

Oleh Vedanta Yoga pada 4 September 2011 pukul 16:47

OM Swastyastu
--- Ya Tuhan, Semoga Engkau selalu memberikan perlindungan ---

Dalam ajaran Hindu ada Panca Sradha (lima keyakinan) yaitu :

1. Percaya adanya Brahman / Entitas Tuhan yang berada di luar jangkauan pemikiran dan indra.
2. Percaya adanya Atman / Roh yang ada di semua makhluk.
3. Percaya adanya hukum Karmaphala (Karma=perbuatan, phala=hasil/buah) yaitu hukum sebab akibat.
4. Percaya adanya Punarbhawa / Reinkarnasi yaitu putaran roda kehidupan.
5. Percaya adanya Moksha yaitu pembebasan dari keterikatan.

Maaf, malaikat bukanlah Dewa, padanan dari malaikat menurut arti kata sejauh yang saya ketahui adalah Bhatara, yaitu kekuatan pelindung yang memiliki tugas-tugas tertentu untuk memastikan bekerjanya jagat raya ini.


Tuhan dalam ajaran Hindu tidaklah spesifik, bukan suatu sosok tertentu yang terpisah dari jagat raya ini. Dia adalah pemilik segalanya sekaligus Dia adalah segalanya, sumber segala sumber dan tujuan akhir dari segalanya. Dia hening, tenang tak tergoyahkan, tak tersentuh, tetap seimbang, tak terpikirkan.

Ketika Dia menunjukkan salah satu kekuatan Nya, manusia mellihatnya sebagai Sinar. "Dewa" berasal dari akar kata "Div" yang berarti sinar. Maka sinar suci Nya yang dapat di tangkap oleh manusia inilah disebut "Dewa" dan untuk dapat dibedakan sesuai sifat dari sinar suci tersebut maka diberikanlah sebutan-sebutan atau nama. Kekuatan dari sinar suci ini, diidentifikasi dan diberikan sebutan "Bhatara" berikut juga dengan sebutan dan nama.Mantram dan Sloka tentang Ke_Esa_an Tuhan.

EKAM SAT WIPRA BAHUDA WADANTI, AGNIM YAMAM MATARISWANAM.
( Reg Weda Mandala I Sukta 164, mantra 46 )
Tuhan itu hanya satu adanya, oleh para Resi disebutkan dengan berbagai nama seperti: AGNI, YAMA, MATARISWANAM.

EKAM EWA ADWITYAM BRAHMAN. 
( Upanishad IV.2.1.)
Tuhan itu hanya satu tidak ada duanya.

NARAYANAD NA DWITYO 'ASTI KASCIT. 
( Narayana Upanishad.)
Narayana tidak ada dua- Nya yang hamba hormati.

Sumeta visva ojasa patim divo
ya eka id bhur atihir jananam,
sa purvyo nutanamo aji gisan
tam vartanir anu vavrta eka id
(Sama Veda, 327)
Marilah datang bersama, engkau semua, dengan semangat kuat pada Penguasa Langit.
Dia yang hanya Esa, tamu semua orang.
Dia yang purba ingin kembali baru. Kepada-Nyalah semua jalan perpaling, Sesungguhnya Dia Esa belaka.

Yo nah pita janita yo nidhata,
dhanani veda bhuvanani visva,
yo devanam namadha eka eva,
tam samprasnam bhuvana yantyanya
(Rg Veda X. 83. 3).
Oh, Bapa kami, Pencipta kami, pengatur kami yang mengetahui semua keadaan, semua apa yang terjadi,
Dia hanyalah Esa belaka memikul nama bermacam-macam dewa.
Kepada Nyalah yang lain mencari-cari dengan bertanya-tanya.

Indram mitram varunam
agnim ahur atho divyah
Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim yarnam mata-risvanam ahuh
(Rg Veda 1.164.46).
Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu Kebenaran itu (Tuhan) orang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisavan.

Tad evagnis tad adityas
tad vayus tad u candramah,
tad eva sukra tad brahma
ta apan sa prajapatih
(Yajur Veda 32.1).
Agni adalah Itu, Aditya adalah Itu,
Vayu adalah Itu, Candrama adalah Itu,
Cahaya adalah Itu, Brahman adalah Itu,
Apah adalah Itu, Prajapatilah Ia.

OM TWAM SIWAH TWAM MAHADEWAH, 
ISWARAH PARAMESWARA,
BRAHMA WISNUSCA RUDRASCA, 
PURUSAH PARIKIRTITAH,
Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra.
Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.

Banyak orang yang menanyakan kepada orang lain, dimanakah Tuhan? Ada yang mengatakan, Dia tidak ada, yang lainnya mengatakan Dia berbahaya. Wahai umat manusia, ketahuilah bahwa Dia-lah yang menebus dosa-dosa umat manusia dan memberikan kehidupan, Dia adalah Tuhan. Rgveda : 2.12.5


Tuhan memiliki ribuan kepala, ribuan mata demikian pula ribuan kaki. Ia tersebar di seluruh penjuru bumi, memiliki 10 jari yaitu Panca Maha Butha dan Panca Tanmantra yang juga berada di luar jagat raya ini.
Rgveda : 10.90.1


Bagi mereka yang pikirannya dipusatkan kepada Yang Tak Terwujud, kesulitannya lebih besar, karena sesungguhnya jalan dari Yang Tak termanifestasikan sukar dicapai oleh orang yang mempunyai badan jasmani.
Bg 12-5

Bhagavata Purana 10.40.7
Para bhakta berdoa, “Yajanti tvam maya vai bahu murtyeka murtikam, Tuhanku, meskipun Anda mewujudkan diri dalam berbagai macam rupa dan bentuk, tetapi Anda tetap satu tiada dua, dan kami hanya menyembah diri-Mu saja”.

Banyak gelar lagi yang dipersembahkan oleh umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai:
Sang Hyang Parameswara (Raja Termulia),
Parama Wisesa (Maha Kuasa),
Jagad Karana (Pencipta Alam) dan lain- lainnya.
Sebagai Pencipta Ia bergelar Brahma (Utpati),
sebagai Pemelihara dan Pelindung (Sthiti) Ia disebut Wisnu dan
Dalam fungsi atau kekuasaan- Nya mengembalikan segala isi alam ini kepada sumber asalnya (pralina) Ia bergelar Siwa

Tuhan yang Esa ini dipuja orang dengan berbagai cara, di berbagai tempat dan dalam berbagai aspek dan perwujudannya. Dewa-dewa itu adalah aspek dari Yang Esa. Hindu menggunakn simbul eksternal ketika berdoa. Orang Hindu akan mengatakan bahwa gambar membantu pikirannya dalam berkonsentrasi pada yang dipujanya. Ia tahu, seperti anda juga tahu, bahwa gambar dan patung bukan Tuhan. Patung tidak bisa berada dimana-mana seperti Tuhan.

Dari Penjelasan diatas ada pertanyaan yang mesti di pertegas agar tidak salah tafsir oleh generasi muda nantinya, pertanyaan ini muncul dari seorang non Hindu,

ini gimana maksudnya ya?? jelasin dunk..

1. ( Upanishad IV.2.1.)

Tuhan itu hanya satu tidak ada duanya.

2. Tuhan memiliki ribuan kepala, ribuan mata demikian pula ribuan kaki. IA TERSEBAR di seluruh penjuru bumi, memiliki 10 jari yaitu Panca Maha Butha dan Panca Tanmantra yang juga berada di luar jagat raya ini.
Rgveda : 10.90.1

Tuhan katanya 1 tapi kok tersebar yo??


Penjelasnnya sebagai berikut tentang Upanishad IV.2.1 dan Regveda 10.90.1 :
Tuhan adalah Kepribadian yang Esa, namun Tuhan adalah sumber dari semua ciptaan dan meresapi semua ciptaan_Nya tanpa kecuali.
itu kenapa Beliau dikatakan memiliki ribuan kepala,mata, dan kaki. ya karena Tuhan tidak terbatas, ada dimana mana sebagai segala hal yang tidak dapat dihitung jumlahnya, oleh itu kenapa Tuhan disebut Maha Kuasa dan Tak Terbatas.


Yang intinya mengartikan bahwa Semua Mahluk di Bumi maupun di angkasa sana, Beliau selalu ADA dalam berbagai nama dan bentuknya baek positif maupun negatif yg tak terbatas (sifat-sifat Tuhan yang Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha Pengasih dan tiada terbatas ) , karena kekuatan manusia untuk menggambarkan Sang Hyang Widhi sangat terbatas adanya. Maka Maha Rsi-Maha Rsi kita hanya mampu memberi sebutan dengan banyak nama menurut fungsiya. 


Sebagai dikatakan dalam pustaka suci Weda:

“EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN”
yang artinya “Hanya satu (Ekam eva) tidak ada duanya (Adwityam) Hyang Widhi (Brahman) itu”

“EKO NARAYANAD NA DWITYO’STI KASCIT”
artinya “Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya”. Dalam lontar Sutasoma juga disebut “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma mangrwa”, yang artinya, “Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada dharma yang dua”. Juga dikatakan

“EKAM SAT WIPRAH BAHUDA WADANTI”, artinya “Hanya satu (Ekam) Sang Hyang Widhi (Sat), namun orang bijaksana (viprah) menyebutkan (wadanti) dengan banyak nama (bahuda)

Mungkin itu dulu yang bisa saya sampaikan dari Tulisan teman kami yang sangat bermanfaat ini.

OM Shanti Shanti Shanti OM
--- Ya Tuhan, Semoga Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai untuk selamanya ---

Referensi tambahan:
Widhi Tatwa (Filsafat Tentang Sang Hyang Widhi)