Tampilkan postingan dengan label tattwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tattwa. Tampilkan semua postingan
Kiamat VS Pralaya

Kiamat VS Pralaya

Di dalam ajaran Hindu ada yang namanya Pralaya, secara fundamental sangat berbeda dengan kiamat.

Kiamat adalah kepercayaan yang ada dalam agama-agama rumpun Yahudi (Yahudi, Kristen, Islam). Konon, pada suatu waktu dunia atau alam semesta ini akan dihancurkan oleh Tuhan. Kenapa? 

Karena manusia banyak yang berbuat dosa, salah satunya, menurut salah satu agama tersebut, karena banyak perempuan jadi pemimpin. Jadi kiamat itu adalah kehancuran dunia karena kemarahan Tuhan. Kiamat itu digambarkan demikian ganas dan mengerikan dan menimbulkan penderitaan luar biasa bagi manusia.

Kiamat sering dipakai oleh pemimpin agama atau nabi-nabi untuk mengancam atau menakut-nakuti agar manusia taat dan patuh kepada Tuhan dan juga para nabinya, dengan mengatakan “Kiamat Sudah Dekat”.

Sejak tahun 500 masehi, sampai sekarang (2015) kedatangan kiamat sudah diramalkan sebanyak 15 kali. Bahkan ada buku yang meramalkan kiamat datang pada tahun 2014. Ada juga yang percaya, sekalipun kebanyakan orang tidak mempedulikannya, karena kebanyakan ramalan, termasuk yang diramalkan oleh para nabi, ternyata isapan jempol saja.

Pralaya atau mahapralaya, adalah kembalinya semesta ini ke asal darimana ia datang, yaitu ke dalam Brahman. Alam semesta sebagai ciptaan, tunduk pada hukum lahir, hidup dan mati. Jika semesta sudah berusia tua, dia kembali ke asalnya, untuk diciptakan lagi menjadi semesta yang baru. Di dalam Hindu penciptaan itu bersifat siklis, berputar, terjadi berulang kali. Pralaya sama seperti orang meninggal secara damai karena usia tua.

Setelah alam semesta pralina, kembali ke asalnya, yaitu Brahman, akan terbentuk lagi alam semesta baru sebanyak pikiran. Di dalam Hindu, penciptaan, pertumbuhan dan pralina terjadi berulang kali.

Dalam ajaran Hindu ada yang disebut dengan unit Kalpadan Yuga. Yuga terdiri dari empat: Kerta, Treta, Dvapara, dan Kali dengan jumlah satuan waktunya masing-masing. Dan keempatnya selalu berulang, sama saja dengan pengulangan (nama-nama) waktu dalam mingguan dan bulanan.

Masa dari tiap Yuga adalah sebagai berikut:
1.       Kerta (Satya) Yuga    : 1.728.000 tahun manusia
2.       Treta Yuga                 : 1.296.000 tahun manusia
3.       Dwapara Yuga           : 864.000 tahun manusia
4.       Kali Yuga                   : 432.000 tahun manusia

Total 4.320.000 = 1 Maha Yuga = Kerta + Treta + Dwapara + Kali

1 Siang Brahma = 1000 Maha Yuga
1 Malam Brahma = 1000 Maha Yuga
1 Kalpa = 1000 Maha Yuga = 1 Siang (siang saja) Brahma = 4,32 milyar tahun manusia

Setelah masing-masing  1 Siang Brahma (4,32 milyar tahun manusia) terjadilah Mahapralaya dalam dunia kosmis; kemudian tidak ada kehidupan selama 1 Malam Brahma (4,32 milyar tahun manusia).
Kehidupan kembali lagi pada awal siang Brahma. Penciptaan, pertumbuhan dan pralina terjadi berulang kali.

Kiamat sudah dekat? Silakan dihitung ulang.
Reinkarnasi, Sebuah Jawaban

Reinkarnasi, Sebuah Jawaban

Mengapa ada penderitaan di dunia ini? Mengapa ada ketidakadilan di dunia yang demikian mencolok? Ada orang baik, menderita oleh penyakit ataupun bencana, maupun karena perbuatan jahat dari orang lain. Sementara ada orang jahat, yang merugikan orang lain tetapi hidup sehat, kaya dan berkuasa?

Reinkarnasi dan Karma, menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental diatas. Keadaan manusia di dunia ini akibat dari perbuatannya di masa lalu dan masa sekarang. Inilah yang dikandung dalam kepercayaan akan Reinkarnasi.

Reinkarnasi berasal dari kata reincarnation, re = kembali; incarnate = badan, (jiwa) kembali masuk ke dalam badan, atau jiwa diberi badan kembali. Dalam bahasa Sansekerta disebut “punarjanma” atau “punarbhava”. Secara filosofis ia adalah kesempatan yang diberikan kepada manusia untuk memperbaiki dirinya. Seperti ujian, bila pada kesempatan pertama tidak lulus, diberikan ujian susulan pada kesempatan yang lain. Di dalam Hindu kesempatan itu tidak terbatas. Dengan kata lain tidak ada hukuman abadi di dalam agama Hindu. Reinkarnasi (dan karma) lebih rasional daripada dogma takdir dan kebangkitan tubuh. Ia bersifat universal, tidak hanya dianut oleh orang Hindu saja. Tapi juga Buddha, Jain menjadikannya sebagai kepercayaan utama. Sekte Kaballah dalam agama Yahudi secara resmi juga percaya terhadap reinkarnasi. Dan secara pribadi juga dianut oleh orang-orang yang beragama Kristen dan Islam sekalipun agamanya tidak mengenal kepercayaan ini.

Semua jiwa mengalami reinkarnasi sampai mereka mencapai moksa. Terkait Reinkarnasi, Upanisad menyatakan:
“Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan, yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka.” (Katha Upanisad II.2.7)

Apakah satu jiwa hanya bisa reinkarnasi ke dalam satu obyek (makhluk)?
“Seperti api yang adalah satu, memasuki dunia ini menjadi bentuk sesuai dengan obyek (yang ia bakar), demikian juga satu jiwa di dalam semua makhluk menjadi berbagai bentuk sesuai dengan apapun (yang ia masuki) dan juga ada di luar (mereka semua)”  (Katha Upanisad II.2.9)

 Jadi satu titik api bisa menyalakan banyak lampu (obor). Bahkan satu titik api bisa membakar hutan yang maha luas.

Ada pertanyaan, mungkinkah kita mengingat kelahiran masa lalu sebelum kelahiran kita sekarang, kalau reinkarnasi itu memang terjadi? Melalui yoga yang tekun. Tetapi ada cara yang lebih cepat yaitu dengan teknik “far age regression”. Melalui hipnotis yang dilakukan oleh orang yang sudah terlatih, seseorang dituntun melihat kehidupan sebelumnya. Di Amerika Serikat hal ini dilakukan oleh para psikolog dan psikiater. Sudah banyak buku yang ditulis oleh para psikolog maupun psikiater barat tentang orang-orang yang mengalami reinkarnasi, bahkan dengan memberikan ribuan bukti-bukti tentang orang-orang dari berbagai agama yang mengingat kelahirannya sebelumnya.

Intinya, Reinkarnasi adalah fakta, bukan sekedar kepercayaan, yang berlaku universal, terhadap orang beragama maupun tidak. Jiwa bisa bereinkarnasi kepada setiap manusia tanpa memperhatikan SARA.
Sorga dan Neraka, Hanya Tempat Singgah

Sorga dan Neraka, Hanya Tempat Singgah

Sorga berasal dari “Svar” yang artinya cahaya dan “ga” (go dalam bahasa inggris) yang artinya pergi. Jadi Sorga artinya pergi menuju cahaya. Di dalam Weda dan Upanisad dikatakan Sorga itu adalah dunia penuh cahaya, dimana cahaya matahari, bulan dan bintang tidak ada apa-apanya. Sorga bukanlah tempat “hiburan” dimana manusia (lelaki) dapat memenuhi nafsu badaninya.


Sorga sifatnya hanya sementara. Bhagawad Gita menyatakan:
“Mereka menikmati sorga yang luas dan ketika buah dari karma baik mereka habis, mereka memasuki dunia yang tidak abadi ini; demikianlah mereka yang mengikuti aturan Weda, mendambakan hasil dari perbuatan mereka, memperoleh lingkaran hidup dan mati” (Bhagawad Gita IX.21)

Sedangkan Neraka didefinisikan sebagai ‘pergi ke bawah’ atau satu tempat di mana tidak ada sedikit pun jejak kebahagiaan.

Di dalam Weda, dari 21.425 mantranya, hanya 3 yang bicara tentang neraka dan Upanisad hanya 1 sloka yang bicara tentang neraka:
Ke dalam daerah tanpa dasar itu, Indra dan Soma, jatuh orang yang tidak bermoral!
Ke dalam kegelapan yang tanpa dasar jatuh mereka, sehingga tak seorang pun dari mereka pernah balik lagi. (Rg Weda VII.104.3)

Tanpa cahaya dan bersifat jahat, sesungguhnya dunia-dunia itu. Dan dibungkus oleh kegelapan yang membutakan, ke tempat itulah semua manusia yang menjadi musuh bagi jiwa-jiwa mereka pergi setelah kematian. (Isa Upanisad 3)

Apakah neraka Hindu tidak terlalu lunak? Bila demikian bukankah berarti Hindu tidak menghukum para penjahat secara setimpal?

Penderitaan mereka akan dialami dalam kelahirannya kembali di dunia ini. Hindu berpandangan kesalahan tidak boleh dihukum lebih dari satu kali, sementara perbuatan baik dapat diberi penghargaan berkali-kali.

Pertama saat perbuatan itu dilakukan kita merasa bahagia, semata-mata karena telah melakukan perbuatan baik. Kedua ketika menerima hasil perbuatan baik itu. Ketiga, ketika mati, perbuatan baik itu akan mengantar kita ke sorga. Keempat, bila kita lahir kembali, kita akan beruntung. Kelima, pada akhirnya perbuatan baik itu akan membawa kita mencapai moksa (karma yoga).

Lukisan neraka dalam Weda sangat menahan diri. Sementara hukuman tetap dijalankan, tidak ada yang dilebih-lebihkan. Bahkan melalui reinkarnasi mereka diberikan kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Dengan penderitaan itu manusia merenungkan dirinya, mengevaluasi tindakannya. Dan dengan itu berupaya memperbaiki hidupnya.

Jadi neraka, tepatnya penderitaan dalam Hindu bersifat konstruktif, bukan balas dendam. Tidak ada siksaan kejam yang berlebih lebihan yang ditimpakan kepada manusia sepanjang masa, seperti yang ditulis dalam kitab suci agama-agama lain.

Setelah menikmati sorga atau neraka, jiwa bisa lahir kembali ke dunia untuk melanjutkan evolusinya sampai mencapai moksa. Tetapi yang penting diingat sorga Hindu bukanlah sorga di mana manusia memuaskan nafsu badaninya. Karena yang hidup di sorga Hindu hanya jiwa, tanpa badan kasar. Neraka Hindu juga tidak seperti neraka dalam agama lain yang merupakan tempat penyiksaan yang kejam dan abadi, terutama bagi yang tidak seiman. Neraka dalam Weda hanya disebut dalam tiga mantra sebagai tempat kegelapan saja. Lawan dari sorga yang artinya dunia yang selalu terang.

Berbeda dengan sorga yang ada di dunia spiritual, bukan dunia fisik ini, neraka itu sebetulnya ada didunia ini, dalam bentuk penderitaan. Tetapi penderitaan kita di dunia ini bersifat konstruktif. Bukan kekejaman dan balas dendam tanpa batas.

Penderitaan membuat manusia melakukan refleksi, membuat hidup seseorang menjadi dalam dan bermakna. Orang yang tidak pernah menderita (apakah ada?) hidupnya dangkal.

Porselin yang indah dan mahal adalah tanah liat yang sudah mengalami penderitaan: ditumbuk, dibentuk dan dibakar dalam api yang sangat panas. Hasilnya barang seni yang berguna, indah dan tinggi nilainya.

Sepotong bambu setelah dilubangi tubuhnya dengan bor panas menjadi seruling yang menghasilkan suara merdu.

Kesimpulannya, sorga dan neraka merupakan tempat singgah dalam perjalanan evolusi jiwa untuk mencapai tujuan akhirnya, moksa.





Sumber: Petunjuk Untuk Yang Ragu
BUKAN SORGA TAPI MOKSA

BUKAN SORGA TAPI MOKSA

Moksa bukan bebas dari dosa, tetapi bebas dari keinginan atau nafsu. “Ketika seluruh keinginan yang berdiam di hati manusia dibuang, lalu manusia yang fana menjadi abadi dan (bahkan) disini ia mencapai Brahman.” (Katha Upanisad VI.14)

Di dalam Weda dijelaskan jiwa yang moksa adalah “.....bebas dari nafsu/keinginan, bijaksana, abadi, lahir sendiri, tidak kurang dalam aspek apapun…..” (Atharwa Weda X.8.44). Itulah sebabnya di dalam menjelaskan tentang Karma Yoga, Bhagawad Gita memerintahkan, “lakukanlah pekerjaanmu tanpa mengharapkan (tanpa keinginan akan) hasil.” Orang melakukan kewajiban demi kewajiban itu sendiri, bukan karena mengharapkan hasil apapun. Dan ini, menurut Bhagawad gita akan menghantarkan manusia mencapai moksa.

Bebas dari keinginan, bukan bebas dari dosa. Apakah bedanya? Kita andaikan hidup kita seperti satu sungai. Bebas dari keinginan artinya kita membersihkan sungai itu pada hulunya dan pada setiap sumber air yang akan masuk ke batang sungai itu. Kita mencegah kotoran masuk ke dalamnya. Sedangkan bebas dari dosa, kita baru membersihkan sungai itu pada bagian hilirnya. Pekerjaan kedua jauh lebih mustahil dari pekerjaan pertama.

Jadi sekali lagi, syarat moksa bukan bebas dari dosa, tetapi bebas dari keinginan/nafsu.

Kemudian ada pertanyaan, apa kelebihan moksa dari sorga? Moksa merupakan tujuan tertinggi manusia Hindu, lebih tinggi dari sorga. Moksa adalah tujuan akhir, artinya dari sana jiwa tidak lahir kembali. Sorga adalah tujuan antara (sementara), dari sorga manusia lahir kembali ke dunia (reinkarnasi).




Sumber: Petunjuk Untuk Yang Ragu